Kontak Bahasa

BAB I

PENDAHULUAN

 

Objek kajian linguistik meliputi kajian linguistik mikro dan makro. Kajian linguistik mikro terdiri dari struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri; sedangkan kajian linguistik makro mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Faktor-faktor di luar bahasa terkait dengan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat bahasa, sebab tidak ada kegiatan yang dilakukan tanpa berhubungan dengan bahasa. Kajian yang berkaitan dengan linguistk makro sangat luas dan beragam, seperti penerjemahan, penyusunan kamus, pendidikan bahasa dan masih banyak kajian yang lainnya. Salah satu hal yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bahasa yang erat kaitannya dengan kegiatan sosial di dalam masyarakat atau hubungan  bahasa dengan masyarakat.

Beragamnya kegiatan sosial masyarakat mengharuskan mereka untuk berkomunikasi satu sama lain, baik itu dengan anggota masyarakatnya ataupun dengan anggota dari masyarakat lain, padahal secara umum diketahui bahwa bahasa yang digunakan antar masyarakat yang satu dengan yang lain bisa berbeda, sehingga peristiwa inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya kontak bahasa. Kontak bahasa merupakan peristiwa dimana terjadi penggunaan lebih dari satu bahasa dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kontak bahasa. Makalah ini akan membahas mengenai faktor-faktor tersebut dengan disertai contoh-contoh masyarakat yang mengalami kontak bahasa serta akibat yang ditimbulkan dari adanya kontak bahasa.

 

  

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Pengertian

Thomason (2001: 1) berpendapat bahwa kontak bahasa adalah peristiwa penggunaan lebih dari satu bahasa dalam tempat dan waktu yang sama. Penggunaan bahasa ini tidak menuntut penutur untuk berbicara dengan lancar sebagai dwibahasawan atau multibahasawan, namun terjadinya komunikasi antara penutur dua bahasa yang berbeda pun sudah dikategorikan sebagai peristiwa kontak bahasa.

Sebagai contoh, ketika dua kelompok wisatawan saling meminjamkan alat masak selama dua atau tiga jam, mereka pasti akan berusaha untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Peristiwa komunikasi ini, meskipun mungkin dalam bentuk yang sangat sederhana, sudah masuk dalam kategori kontak bahasa.

  1. B.  Faktor Penyebab Kontak Bahasa

Thomason (2001: 17-21) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kontak bahasa dapat dikelompokan menjadi lima, yaitu :

  1. a.    Adanya dua kelompok yang berpindah ke daerah yang tak berpenghuni kemudian mereka bertemu disana

Dalam kasus ini, kedua kelompok bukan merupakan kelompok pribumi sehingga satu sama lain tidak menjajah atau merambah wilayah masing-masing. Antartika, sebagai tempat dimana tidak ada populasi manusia yang menetap disana, merupakan contoh dari adanya kontak bahasa dengan sebab ini. Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia saling melakukan kontak bahasa dalam perkemahan mereka selama berada disana.

  1. b.   Perpindahan satu kelompok ke wilayah kelompok lain

Peristiwa perpindahan ini bisa dengan cara damai atau sebaliknya, namun kebanyakan tujuan dari adanya perpindahan ini adalah untuk menaklukan dan menguasai wilayah dari penghuni aslinya. Sebagai contoh, pada awalnya masyarakat Indian menerima kedatangan bangsa Eropa dengan ramah, begitu pun sebaliknya. Namun, bangsa Eropa kemudian berkeinginan untuk memiliki tanah Amerika, sehingga ketika jumlah mereka yang datang sudah cukup banyak, mereka mengadakan penaklukan terhadap warga pribumi.

Peristiwa terjadinya kontak bahasa dalam hal ini, yaitu melalui adanya peperangan. Namun, tidak semua kontak bahasa terjadi melalui proses saling bermusuhan. Ada juga yang terjadi melalui perdagangan, penyebaran misi agama serta adanya perkawinan campuran antara warga pribumi dan bangsa Eropa.

Kasus lain terjadinya kontak bahasa yang disebabkan oleh perpindahan ini adalah adanya gelombang imigran dimana para imigran pendatang baru mengambil alih wilayah dari imigran sebelumnya, seperti yang terjadi di New Zealand. Pada awalnya, wilayah tersebut tidak berpenghuni sampai penutur bahasa Maori – bahasa yang masuk dalam cabang Polynesian dari keluarga Austronesian – mendiami wilayah tersebut sebelum 1000 Masehi. Namun kemudian, para imigran Eropa datang dan mengambil alih wilayah dari imigran sebelumnya ini. Adanya peristiwa ini menyebabkan bahasa yang dipakai di New Zealand secara mayoritas adalah bahasa Inggris, meskipun bahasa Maori juga masih dipakai dan dipertahankan keberadaannya.

Hal sama mengenai peristiwa ini juga terjadi di Amerika Utara, dimana para penutur bahasa Spanyol menggusur penduduk pribumi di wilayah California dan barat daya, kemudian para penutur bahasa Inggris berimigrasi dan mengambil alih tanah dan kekuasaan dari para penutur bahasa Spanyol di bagian wilayah yang sekarang disebut sebagai United States.

Namun demikian, di samping perpindahan dengan penaklukan dan penguasaan tersebut, ada pula kontak bahasa yang terjadi dengan jalan damai, yaitu perpindahan kelompok-kelompok kecil atau individu-individu yang tersebar yang bergabung dengan para imigran yang telah datang lebih dulu dan menempati wilayah itu sebelumnya. Kebanyakan para kelompok imigran yang datang ke Amerika menempuh jalan ini, salah satunya adalah Pennsylvania Dutch, yang sebenarnya merupakan penutur bahasa Jerman, bukan Belanda.

  1. c.    Adanya praktek pertukaran buruh secara paksa

Kontak bahasa pada beberapa perkebunan di daerah Pasifik berawal ketika para buruh yang dibawa kesana, beberapa karena pemaksaan, berasal dari berbagai pulau Pasifik yang berbeda. Banyaknya orang Asia Selatan di Afrika Selatan pada awalnya berasal dari pertukaran buruh pada industri tebu sekitar abad XIX. Hal ini menyebabkan bahasa Tamil, salah satu bahasa India, menjadi bahasa minoritas di negara tersebut.

Adanya pertukaran buruh atau budak ini mendorong sosiolinguis untuk membuat perbedaan antara yang secara sukarela atau yang dipaksa untuk berpindah. Perbedaan ini tentu saja memengaruhi sikap mereka terhadap negara yang dituju dan seringkali juga pada hasil kontak bahasa.

Cara berbeda untuk memulai adanya kontak adalah dengan datang ke tempat yang belum dimiliki sebelumnya, yaitu datang bersama-sama dengan tujuan khusus ke wilayah yang netral, seperti yang dilakukan oleh misi Yesuit di St. Ignatius, Montana. Berdasarkan nasihat penduduk setempat, misi ini didirikan di lokasi netral yang tidak menjadi milik suku manapun namun digunakan sejumlah suku asli Amerika sebagai tempat berkumpul dan bertaruh.

Dalam masa-masa eksplorasi, banyak kota yang bermunculan di daerah pantai sepanjang rute perdagangan Eropa. Di kota-kota ini, penduduk pribumi berkumpul untuk bertemu dan melakukan perdagangan dengan para pedagang Eropa. Di pesisir Cina misalnya, orang-orang Eropa hanya diijinkan untuk mendarat di dua lokasi, yaitu Canton dan Macau. Mereka dilarang untuk menjelajah di selain kedua lokasi tersebut.

  1. d.   Adanya hubungan budaya yang dekat antarsesama tetangga lama

Faktor kontak bahasa yang satu ini, menjelaskan pada kita bahwa kita tidak mencari mengenai asal usul adanya kontak, karena hal itu pasti terjadi dahulu kala ketika kelompok-kelompok menjadi tetangga. Kontak bahasa merupakan salah satu hasil dari penggabungan tahunan (untuk tujuan pertahanan) pada sejumlah suku –suku pegunungan di barat laut United States ketika mereka berpindah ke lembah untuk berburu kerbau.

Kontak bahasa juga terjadi sebagai hasil dari perkawinan campuran diantara suku Aborigin Australia yang mempraktekan eksogami. Lebih jauh lagi, ini juga bisa terjadi sebagai hasil dari perdagangan yang dilakukan antar kelompok-kelompok tetangga.

Dalam skala yang lebih kecil, kontak bahasa antar individu bisa terjadi sebagai akibat dari beberapa hal seperti perkawinan campuran yang terjadi antara wanita-wanita Vietnam yang menikah dengan tentara Amerika selama perang Vietnam, pertemuan antara siswa-siswa yang belajar di luar negeri, pengadopsian balita-balita Rumania dan Rusia oleh pasangan-pasangan Amerika, atau bisa juga pelajar yang sedang menjalani pertukaran pelajar dan harus menetap sementara di rumah penduduk setempat.

  1. e.    Adanya pendidikan atau biasa disebut ‘kontak belajar’

Di zaman modern ini, bahasa Inggris menjadi lingua franca dimana semua orang di seluruh dunia harus mempelajari bahasa Inggris jika mereka ingin belajar Fisika, mengerti percakapan dalam film-film Amerika, menerbangkan pesawat dengan penerbangan internasional, serta melakukan bisnis dengan orang Amerika maupun orang-orang asing lainnya. Bahasa Inggris juga menjadi lingua franca dalam komunikasi internasional melalui internet. Banyak orang yang menggunakan bahasa Inggris dengan tujuan ini, tidak berkesempatan (dan kadang bahkan tidak berkeinginan) untuk praktek berbicara dengan penutur asli bahasa Inggris.

Contoh lain dari kontak belajar adalah bahasa Jerman baku di Swiss, dimana penutur bahasa Jerman berdialek Swiss harus belajar bahasa Jerman baku di sekolah. Hal yang sama juga terjadi pada orang muslim di seluruh dunia yang harus mempelajari bahasa Arab klasik untuk tujuan keagamaan, meskipun mereka mungkin tak akan pernah bertemu dengan penutur bahasa Arab dialek modern.

  1. C.  Akibat Kontak Bahasa

Kontak bahasa berhubungan erat dengan terjalinnya kegiatan sosial dalam masyarakat terbuka yang menerima kedatangan anggota dari satu atau lebih masyarakat lain.Thomason (2001:157) mengatakan bahwa adanya lingua franca menyebabkan terjadinya kontak bahasa. Lebih jauh lagi, Thomason menyatakan bahwa tiga hal akibat percampuran bahasa memunculkan bahasa pidgins, creol, dan bahasa bilingual campuran. Fenomena tersebut merupakan fenomena yang saling terpisah, hanya saja untuk pidgin dan creol, dua hal tersebut terjadi secara alami bersama-sama.

Thomason (2001: 158), menyampaikan bahwa bahasa-bahasa yang mengalami kontak tidak harus selalu menjadi lingua franca. Pidgin dan kreol muncul dalam konteks dimana orang-orang dari latar belakang linguistik yang berbeda perlu mengadakan pembicaraan secara teratur, inilah asal muasal lingua franca; sedangkan bahasa bilingual campuran merupakan golongan bahasa tersendiri yang bukan merupakan bahasa dari pergaulan luas.

  • Apa itu pidgin dan kreol?

Thomason (2001:159), menyatakan bahwa pidgin secara tradisional adalah bahasa yang muncul dalam kontak situasi baru yang melibatkan lebih dari dua kelompok kebahasaan. Kelompok-kelompok ini tidak memiliki satupun bahasa yang diketahui secara luas diantara kelompok-kelompok yang saling terkontak. Mereka perlu berkomunikasi secara teratur, namun untuk tujuan yang terbatas, misalnya perdagangan. Dari beberapa kombinasi alasan ekonomi, sosial dan politik, mereka tidak mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing kelompok, melainkan hanya mengembangkan pidgin dengan kosakata yang secara khusus digambarkan (meskipun tidak selalu) dari salah satu bahasa yang mengalami kontak. Tata bahasa pidgin tidak berasal dari salah satu bahasa manapun, melainkan merupakan sejenis kompromi persilangan tata bahasa dari bahasa-bahasa yang terkontak, dengan lebih atau sedikit terpengaruh oleh pembelajaran bahasa kedua universal; secara khusus kemudahan belajar membantu menentukan struktur kebahasaan pidgin.

Pandangan-pandangan mengenai pidgin di atas membawa beberapa implikasi, yaitu bahwa pidgin tidak memiliki penutur asli: pidgin selalu digunakan sebagai bahasa kedua (atau ketiga, atau keempat, atau…) dan secara khusus digunakan untuk tujuan terbatas bagi komunikasi antarkelompok. Implikasi yang kedua, yaitu bahwa pidgin mempunyai lebih sedikit bahan atau materi linguistik dibandingkan bahasa nonpidgin – lebih sedikit kata, serta tata bahasa dan sumber gaya dalam sintak dan wacana yang terbatas.Contoh pidginisasi terjadi pada kontak bahasa pada bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris dalam kawasan pariwisata di Bali.

Selanjutnya creol, creolsangat kontras dengan pidgin, dimana creol mempunyaipenutur asli dalam komunitas ujaran. Seperti pidgin,creol berkembang dalam kontak situasi yang didalamnya melibatkan lebih dari dua bahasa. Creol secara khusus menggambarkan leksikonnya, namun tidak tata bahasanya. Grammar creol sama seperti pidgin yang berasal dari persilangan bahasa yang dikompromikan oleh kreator, seseorang yang mungkin atau tidak mungkin memasukkan penutur asli dari bahasa lexfier. Pada kenyataan beberapa bahasa creol merupakan penutur asli pidgin.

Thomason (2001: 198) juga menyebutkan bahwa akibat lain dari adanya kontak bahasa adalah bahasa bilingual campuran (bilingual mixed languages). Pengistilahan ini merujuk pada fakta bahwa bahasa tersebut diciptakan oleh dwibahasawan, hanya saja agak sedikit melenceng karena pada dasarnya tidak ada batasan berapa jumlah bahasa yang bisa digabungkan untuk membentuk bahasa bilingual campuran ini. Oleh sebab itu, tidak ada alasan mengapa multibahasawan tidak dapat membentuk sebuah bahasa campuran dengan menggambarkan pada tiga atau lebih bahasa yang mereka tuturkan, meskipun Thomason juga mengatakan bahwa dia tidak tahu satupun bahasa campuran yang stabil dimana semua komponennya tergambar dari lebih dari dua bahasa.

Chaer dan Agustina (2010: 84) berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa adalah peristiwa bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa. Berikutnya kita akan membahas satu-persatu peristiwa tersebut.

  1. 1.  Bilingualisme

Spolsky menyebutkan bahwa bilingualisme ialah ketika seseorang telah menguasai bahasa pertama dan bahasa keduanya (45:1998). Sedangkan, Chaer (2007:65-66)menyampaiakan beberapa pendapat ahli sebagai berikut.

  • Blomfield (1995) mengartikan bilingual sebagai penguasaan yang sama baiknya oleh seseorang terhadap dua bahasa.
  • Weinrich (1968) menyebutkan bahwa bilungual merupakan pemakaian dua bahasa oleh seseorang secara bergantian; sedangkan
  • Haugen (1966) mengartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain yang bukan termasuk bahasa ibunya.

Dengan demikian, bilingualisme merupakan penguasaan seseorang terhadap dua  bahasa atau lebih (bukan bahasa ibu) dengan sama baiknya. Bilingualisme terjadi pada penutur yang telah menguasai B1 (bahasa pertama) kemudian ia juga mampu berkomunikasi dengan B2 (bahasa kedua) secara bergantian seperti yang terjadi di Montreal.

  1. 2.    Diglosia

Ferguson (melalui Chaer dan Agustina,2010: 92) menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Contoh dari bahasa Jawa terdapat bahasa Jawa Ngoko, Madya, dan Kromo.

  1. 3.    Alih kode

Alih kode merupakan peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain, baik pada tataran antarbahasa, antarvarian (baik regional atau sosial), antarregister, antarragam, dan antargaya. Secara umum alih kode adalah pergantian (peralihan) pemakaian dua bahasa atau lebih,beberapa variasi dari satu bahasa, atau beberapa gaya dari satu ragam bahasa. Apple (1976:79 melalui Chaer dan Agustina, 107-108) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi. Berbeda dengan Apple yang menyatakan alihkode itu antarbahasa, maka Hymes (1875:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam suatu bahasa. Contoh alih kodeketika penutur A dan B sedang bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa sunda kemudian datang C yang tidak mengerti bahasa sunda maka A dan B beralih kode dalam bahasa Indonesia yang juga dimengerti oleh C.

  1. 4.    Campur kode

Thelender (1976: 103 melalui Chaer dan Agustina, 115: 2010) mencoba menjelaskan mengenai alih kode dan campur kode. Bila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Tetapi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode bukan alih kode.Perhatikan percakapan berikut yang dilakukan oleh penutur dwibahasawan Indonesia- Cina Putunghoa di Jakarta, diangkat dari laporan Haryono  (1990 melalui Chaer dan Agustina, 2010: 117).

Lokasi : di bagian iklan kantor surat kabar harian indonesia

Bahasa : indonesia dan cina putunghoa

Waktu           : senin, 18 November 1988, pukul 11. WIB

Penutur : informan III (inf) dan pemasanga iklan (PI)

Topik   : memilih halaman untuk memasang iklan

Inf III : ni mau pasang di halaman berapa? (anda, mau pasang di halaman berapa?)

PI        : di baban aja deh (dihalaman depan sajalah)

Inf III :mei you a! Kalau mau di halaman lain; baiel di baban penuh lho! Nggak ada lagi! ( kalau mau di halaman lain. Hari selasa halaman depan penuh lho. Tidak ada lagi)

PI        : na wo xian gaosu wodejingli ba. Ta yao di baban a (kalau demikian saya beri tahukan direktur dulu. Dia maunya di halaman depan)

Inf III: hao, ni guosu ta ba. Jintian degoang goa hen duo. Kalau mau ni buru-buru datang lagi (baik, kamu beri tahu dia. Iklan hari ini sangat banyak. Kalau kamu mau harus segera datang lagi)

  1. 5.    Interferensi

Interferensi adalah penyimpangan norma bahasa masing-masing yang terjadi di dalam tuturan dwibahasawan (bilingualisme) sebagai akibat dari pengenalan lebih dari satu bahasa dan kontak bahasa itu sendiri. Interferensi meliputi interferensi fonologi, morfologi, leksikal, dan sintaksis. Contoh interferensi fonologi pada kata Bantul èmBantul. Interferensi morfologi pada kata terpukulèkepukul. Hal ini terinterferensi bahasa Indonesia oleh bahasa jawa. Interferensi sintaksis pada kalimat di sini toko laris yang mahal sendirtoko laris adalah toko yang paling mahal di sini. Interferensi leksikon pada kata kamanahèkemana (bahasa Indonesia terinterferensi bahasa Sunda).

  1. 6.    Integrasi

Integrasi merupakan bahasa dengan unsur-unsur pinjaman dari bahasa asing dipakai dan dianggap bukan sebagai unsur pinjaman, biasanya unsur pinjaman diterima dan dipakai masyarakat setelah terjadi penyesuaian tata bunyi atau tata kata dan melalui proses yang cukup lama. Contoh police dari bahasa Inggris yang telah diintegrasikan oleh masyarakat Malaysia menjadi polis, kata research juga telah diintegrasikan menjadi riset.

  1. 7.    Konvergensi

Secara singkat Chaer dan Agustina (2010: 130) menyatakan bahwa ketika sebuah kata sudah ada pada tingkat integrasi, maka artinya kata serapan itu sudah disetujui dan converged into the new language. Karena itu proses yang terjadi dalam integrasi ini lazim disebut dengan konvergensi. Contoh berikut proses konvergensi bahasa indonesia dan sebelah kanan bentuk aslinya.

Klonyoè eau de cologne                     sirsakè zuursak

Sopir è chauffeur                                researchè riset

  1. 8.    Pergesesan bahasa.

Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain (Chaer dan Agustina, 2010: 142). Kalau seorang atau sekelompok orang penutur pindah ketempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan bercampur dengan mereka maka akan terjadi pergeseran bahasa.  Contoh pergeseran bahasa Jakarta baru-baru ini telah membuka lapangan kerja bagi para lulusan SMK untuk ditempatkan pada pabrik di kawasan jabodetabek. Kemudian para pemuda yang berasal dari SMK diseluruh Indonesia berbondong untuk menjadi pekerja di pabrik tersebut. Para pemuda yang berasal dari berbagai daerah tersebut pasti akan mengalami kontak bahasa. Ketika mereka berbicara dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa daerah, namun ketika berbicara bukan dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa indonesia dialek jakarta. Dengan adanya peritiwa ini maka pergeseran bahasa sangat mungkin terjadi.

Contoh penelitian

Variasi Bahasa Inggris pada Kawasan Pariwisata Di Bali

Oleh N.L Sutjiati Beratha

Penelitian ini menghasilkan bahwa variasi bahasa inggris di Bali (Kuta, Ubud, Tanah Lot, dan Kali Bukbuk) disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi interferensi interlingual, yakni interferensi dari bahasa daerah mempengaruhi bahasa ke 2 atau ke tiga. Interferensi jenis ini akan mengakibatkan penyederhanaan dan penerapan hipotesis yang salah, meliputi interferensi fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Interferensi fonologi, misalnya pada pengucapan kata /f/ atau /v/ diucapkan menjadi /p/. Seperti contoh berikut “ok, never forget, see you” menjadi “neper porget”. Interferensi morfologi, misalnya penambahan sufiks /s/ pada nomina berverba tunggal, “ this paintings is very old, sir” seharusnya yang diucapakan “this is a very old painting, sir”, selain contoh itu penutur bahasa Bali biasanya juga memberikan pengulangan bentuk seperti dalam bahasa indonesia , “tomorrow-tomorrow come back, sir”. Interferensi pada tataran sintaksis seperti pembalikan susunan kalimat,” coming in Bali your girl friend?”. Interferensi leksikon ditunjukkan dalam penggunaaan leksikon holiday, leksikon tersebut diartikan oleh orang Bali sebagai libur, namun dalam pemakaian dalam konteks berikut, kiranya kurang tepat “ back, back, holiday” seharusnya “please back ward, it is free”. Interferensi berikutnya adalah interferensi intralanguage meliputi tataran morfologi dan leksikon. Pada tataran morfologi seperti pada kalimat berikut “ you say two coffees and teas” seharusnya yang diucapkan adalah “ did you say that you order two cups of coffee and two glasses of tea” sedangkan pada tataran leksikon “ I like to hear classical music” seharusnya “ I like to listen to classical music”. Faktor eksternal dalam variasi yang ada di dalam penelitian ini adalah disebabkan oleh kelompok sosial masyarakat Bali yang menggunakan bahasa tersebut. Kemampuan berkomunikasi yang baik juga akan menjadikan komunikasi secara baik pula, dengan adanya tiga kriteria berikut, yakni kemampuan linguistik, keterampilan berinteraksi dan pengetahuan mengenai budaya.

BAB III

KESIMPULAN

 

Berdasarkan pemaparan materi mengenai kontak bahasa maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut.

  1. Kontak bahasa merupakan suatu peristiwa dimana antara penutur dan mitra tutur tidak mempunyai latar belakang bahasa yang sama sehingga mereka melakukan kontak bahasa.
  2. Faktor-fakor kontak bahasa meliputi:
    1. Adanya dua kelompok yang berpindah ke daerah yang tak berpenghuni kemudian mereka bertemu disana
    2. Perpindahan satu kelompok ke wilayah kelompok lain
    3. Adanya praktek pertukaran buruh secara paksa
    4. Adanya hubungan budaya yang dekat antarsesama tetangga lama
    5. Adanya pendidikan atau biasa disebut ‘kontak belajar’
    6. Kontak bahasa bisa terjadi pada masyarakat yang terbuka menerima masyarakat yang berbeda bahasa untuk masuk dalam masyarakat tuturnya, sehingga masyarakat tidak lagi disebut sebagai masyarakat monolingual
    7. Akibat dari kontak bahasa memunculkan peristiwa lingua franca yang di dalamnya terdapat bahasa pidgin dan kreol. Selain itu akibat kontak bahasa juga terjadi bilingualisme, diglosia, interferensi, konvergensi, integrasi, dan pergeseran bahasa.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Beratha, Sutjiati. N.L. 1999. Variasi Bahasa Inggris Pada Kawasan Pariwisatadi Bali. Jurnal Humaniora, vol 12 (122-130)

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta.

Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Thomason. G, Sarah.2001.Language Contact. Edinburg: Edinburg University Press Ltd.

Permadi, Tedi. Interferensi Non-Bahasa Indonesia Ke Dalam Bahasa Indonesia:Tinjauan Atas Beberapa Hasil Penelitian. FPBSI: Universitas Pendidikan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s