Variasi Sosial (1)

VARIASI SOSIAL PENGGUNA BAHASA

(PENDIDIKAN, PEKERJAAN, RELIGI, DAN PRANATA SOSIAL)

BAB I PENDAHULUAN

 

Di dalam masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah dari yang lain. Ia merupakan anggota dari kelompok sosialnya. Oleh sebab itu, bahasa dan pemakaian bahasanya tidak diamati secara individual, tetapi selalu dihubungkan dengan kegiatannya di dalam masyarakat. Atau dengan kata lain, bahasa tidak saja dipandang sebagai gejala individual, tetapi juga merupakan gejala sosial.

Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik, tetapi juga oleh faktor-faktor nonlinguistik, yaitu: (a) faktor sosial, misal: status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan sebagainya dan (b) faktor situasional, misal: siapa berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Adanya faktor-faktor sosial dan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pemakaian bahasa, maka timbullah variasi bahasa.

Variasi bahasa yaitu bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya. Adapun wujud variasi bahasa itu dapat ditinjau dari bermacam-macam segi, antara lain: segi penutur, segi pemakaian, segi keformalan, dan segi sarana. Berikut penjelasan masing-masing segi.

Variasi bahasa berdasarkan segi penutur atau pengguna bahasa sebagaimana dijelaskan tadi dipengaruhi oleh faktor sosial. Dalam makalah ini faktor-faktor sosial yang mempengaruhi variasi bahasa yang akan dibahas adalah dari segi pendidikan, pekerjaan, pranata sosial, dan religi. Hal ini guna memberi pemahaman mendalam mengenai variasi bahasa dari segi penuturnya melanjutkan apa yang telah dibahas dalam makalah sebelumnya.

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

2.1 Bahasa dan Pendidikan

Variasi sosial pengguna bahasa dapat ditinjau dari status sosial dan pendidikan merupakan salah satu bentuk dari status sosial yang keberadaannya terlihat jelas di masyarakat. Chaer dan Agustina (2010: 65) mengungkapkan bahwa perbedaan variasi bahasa berdasarkan pendidikan bukan hanya dapat terlihat pada isi pembicaraan melainkan juga kosakata, pelafalan, morfologi, dan sintaksisnya. Pendapat ini juga sejalan dengan teori Bernstein (dalam Sumarsono, 2011: 53) yang menyatakan ada dua ragam bahasa penutur yaitu kode terperinci dan kode terbatas. Kode terperinci biasa digunakan dalam situasi formal atau dalam situasi akademik. Ciri-cirinya mengacu pada ragam bahasa yang tinggi dan bermutu, seperti banyak menggunakan kata “saya” dalam berbahasa, menggunakan bahasa asing dengan baik, atau penggunaan bahasa yang tersusun dengan rapi secara gramatikal. Kode terbatas lebih cenderung pada situasi nonformal. Kode ini umumnya terikat pada konteks.

Sebagai contoh variasi sosial bahasa berdasarkan pendidikan, berikut dilampirkan status pada beberapa akun sosial media facebook yang sudah dikategorikan berdasarkan umur yang sama dan tingkat pendidikan yang ditempuh berbeda. Pada tabel tersebut terlihat perbedaan penggunaan kata-kata untuk setiap jenjang pendidikan yang ditempuh.

Kelompok umur 29 tahun, ketiga objek kajian berlatarbelakang tingkat pendidikan yang sama namun berbeda jurusan. Status yang tercantum terlihat bahwa ketiganya menggunakan kode terperinci karena dapat memilih kata dengan baik, pola kalimat yang tersusun dengan rapi. Walaupun Adnan Daulay banyak menuliskan kata sesuai dengan bagaimana cara pelafalannya yaitu X untuk menggantikan kata kali (sangat/ banget) dan n untuk menggantikan kata and (dan).

Kelompok umur 23 tahun, terlihat perbedaan latar belakang pendidikan yang berbeda dan hal itu sejalan dalam penggunaan kata pada status untuk ketiga objek kajian. Afien Sicakiel misalnya yang berlatarbelakang pendidikan terakhir SMA tidak menggunakan tata bahasa dengan baik. Ada beberapa singkatan yang digunakan merupakan singkatan yang tidak baik seperti aq (aku), gk (enggak/ tidak), awq (awak/ aku), dan sma (sama/ pada). Terdapat adanya perubahan bentuk kata yang tidak baik misalnya ngasi seharusnya kasih (memberi), baek seharusnya baik dan sayank seharusnya sayang. Selain itu menggunakan tanda baca salah yang terlihat pada penggunaan tanda baca “seru (!)” dan “tanya (?)”. Kemudian penggunaan tanda baca “kutip (“)” yang dapat dimaknai dengan “baca dua kali” pada kata baek” (dibaca: baekbaek). Berbeda dengan Zakky Fathoni dan Khairul Azmi yang tidak banyak menggunakan perubahan informal dalam susunan penggunaan kata. Selanjutnya terlihat menggunakan campuran bahasa asing misalnya “iki jenenge ‘not in purpose’.. -____-“ ; “weekend !!!” ; “Open recruitment: Sensus Pertanian 2013. Just call me for the requirment, OK sip..!”; dan “Ahmadalbar’s hair style..”. Walaupun terdapat kesalahan-kesalahan penulisan kata misalnya pada kalimat “..dan seringkali ‘zona aman’ itu menghambat kreatifitas dan menjinakkan agresifitas..” (kreatifitas seharusnya kreativitas dan agresifitas seharusnya agresivitas) dan ““Open recruitment: Sensus Pertanian 2013. Just call me for the requirment, OK sip..!” (requirment seharusnya requirement).

Kelompok umur 24 tahun, secara umum sama dengan kelompok umur lain yang objeknya telah menempuh pendidikan tinggi penulisan status menggunakan kode terperinci. Bila dilihat berdasarkan isi status tersebut maka pembaca juga dapat menebak latar belakang pendidikan si penulis. Sebagai contoh AenndResist MGhintienkn GendutUrbanpoor yang memaparkan hampir pada seluruh statusnya tentang tentang dunia pendidikan yang merupakan almamaternya yaitu Pendidikan Sejarah. Untuk penulisan kata juga mengalami hal yang sama dalam penyingkatan kata misalnya pada status Afrizal Muhammad yang menggukan dr untuk dari, tgh untuk tengah, ampe untuk sampai.

Berdasarkan analisis status akun media sosial tersebut dapat disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan cukup berpengaruh dalam pemilihan kata ketika berkomunikasi walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi misalnya psikologi, pekerjaan, dan lain-lain.

 

2.2 Bahasa dan Pekerjaan

Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur
Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Tiap-tiap pekerjaan memiliki registernya masing-masing. Wardhaugh (2006) mendeskripsikan register sebagai suatu set ‘language items’ yang berhubungan secara khusus dengan kelompok sosial atau kelompok pekerjaan (occupational) tertentu. Dokter, pilot, manager bank, pedagang, sopir angkot, musisi,atau bahkan mereka yang bekerja dalam dunia prostitusi memiliki register masing-masing. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ferguson (1994 dalam Wardhaugh, 2006) ‘Orang-orang yang berkutat dalam situasi komunikasi yang terus berulang cenderung mengembangkan kosakata, intonasi, dan kepingan karakteristik sintaksis dan fonologi yang serupa yang mereka gunakan dalam situasi-situasi tersebut’. Variasi jenis inilah yang disebut register. Ferguson menambahkan bahwa ‘istilah-istilah khusus untuk objek-objek atau kejadian-kejadian tertentu yang berulang ini tampaknya membantu komunikasi agar semakin ‘cepat’. Di bawah ini diberikan contoh variasi bahasa yang berkenaan dengan pekerjaan.

Contoh variasi bahasa yang digunakan dalam bidang kedokteran misalnya: “Ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang.”

Contoh variasi bahasa dalam bidang hukum misalnya:Arraignment adalah istilah common law untuk pembacaan resmi criminal complaint di hadapan defendant, untuk memberi tahu tuduhan terhadapnya. Sebagai jawaban, ia diharapkan untuk menyatakan pengakuan, misalnya “bersalah”, “tidak bersalah”, peremptory plea, nolo contendere, atau Alford plea. Di Inggris, arraignment adalah 11 tahap pertama dalam pengadilan, dan melibatkan seorang clerk of the court membacakan tuduhan.”

Register yang digunakan seseorang bisa merefleksikan latar belakang orang tersebut. Tentu saja, seseorang bisa mengontrol variasi register yang ia gunakan; seseorang mungkin saja memiliki lebih dari satu profesi. Tiap register akan membantu mengungkapkan siapa diri seseorang pada waktu dan tempat tertentu. Register ini juga bisa digunakan untuk mengukur apakah seseorang ‘lebih baik’ atau ‘lebih buruk’ daripada orang lain yang seprofesi dengannya.

2.3 Bahasa dan Agama

Topik ‘bahasa dan agama’ relatif baru dalam sosiolinguistik. Perkembangan sistematis dari ‘bahasa dan agama’ sebagai suatu bidang dalam sosiolinguistik bahkan baru dimulai sekitar satu dekade lalu. Sejarah masuknya agama sebagai salah satu faktor penting dalam variasi bahasa dimulai Haugen dan Fishman, William Stewart dan Charles Ferguson antara tahun 60-80an dimana hasil penelitian mereka membeberkan hubungan antara agama dan bahasa. Stewart (1968: 541 dalam Darquennes dan Vandenbussche, 2011) bahkan menyusun daftar fungsi bahasa religious sebagai salah satu dari 10 fungsi bahasa. Dan pada saat artikel Crystal dan Samarin berjudul Language in Religious Practice (1976) diterbitkan, Ferguson (1982) menguatkannya dengan penelitiannya tentang korelasi distribusi sistem penulisan dunia dengan penyebaran agama (Darquennes dan Vandenbussche, 2011).

Salah satu karya yang menjadi kerangka hubungan bahasa dan agama adalah Concise encyclopedia of language and religion (2001 dalam Darquennes dan Vandenbussche, 2011) yang diedit oleh Swayer dan Simpson. Ensiklopedia ini terdiri dari 6 bagian pokok:

  • Bahasa dalam konteks agama tertentu

Bagian ini terfokus pada fungsi bahasa dalam agama (agama tradisional Afrika, agama suku Aborigin Australia, Kristen, Buddha, Confucianisme, Islam, Judaisme, Quakerisme, Sikhisme, dll.

  • Tulisan dan terjemahan yang disakralkan

Fokus bagian ini adalah pada teks sakral seperti Qur’an, Injil, Talmud, terjemahan teks-teks sakral tersebut serta temuan-temuan arkeologis yang berbentuk tulisan.

  • Bahasa dan naskah religius

Bagian ini berkenaan dengan peran bahasa ternntu dalam memunculkan variasi dalam bahasa religi (Bahasa Latin Gereja, Bahasa Slavonic Gereja, Bahasa Yahudi Aramaic, Panjabi, dll.)

  • Penggunaan bahasa-bahasa khusus

Bagian ini mencakup bahasa dalam konteks konteks tertentu seperti dzikir, pemujaan, mantra, glossolalia, meditasi, dll, juga dalam keseharian seperti menyebut pujian atau mengumpat.

  • Keyakinan tentang bahasa

Bagian ini mencakup pembahasan filosofis dari bahasa religi dalam agama. Bagian ini juga membahas kepercayaan tentang kekuatan yang ada dalam nama-nama atau kata-kata tertentu.

  • Agama dan penelitian bahasa

Bagian ini merangkum artikel-artikel yang berkenaan dengan kontribusi para peneliti yang memfokuskan kajiannya pada bahasa dalam konteks agama.

Kerangka kerja yang lain yang berkenaan dengan hubungan antara bahasa dan agama adalah yang dikembangkan oleh Spolsky (2006 dalam Darquennes dan Vandenbussche, 2011) yang terdiri dari dimensi-dimensi berikut:

  1. Efek agama terhadap bahasa: Topik-topik penelitian yang memungkinkan seperti pengaruh agama terhadap pemilihan bahasa, pemeliharaan bahasa (language maintenance) juga kosakata-kosakata serapan.
  2. Mutualitas bahasa dan agama: Penelitian dalam dimensi ini berhubungan, sebagai contoh, dengan hubungan dua arah antara agama dan bahasa dalam perubahan repertoire komunitas multilingual. Dalam contoh ini, yang dibahas adalah hubungan antara multilingualisme dengan pluralisme agama.
  3. Efek bahasa terhadap agama: Kemungkinan penelitian yang berkenaan dengan hal ini adalah kontribusi bahasa (seperti yang digunakan dalam doa) dalam membangun komunitas yang religius.
  4. Bahasa, agama dan literasi (daya baca): penelitian dalam konteks ini contohnya adalah pengaruh bahasa dan agama terhadap literasi komunitas tertentu.

Contoh sederhana dari bentuk pengaruh agama pada bahasa misalnya pada seorang artis Indonesia yang sering mengucapkan “Alhamdulillah yah, sesuatu!”. Dalam ungkapan tersebut terdapat istilah religius “Alhamdulillah” yang bermakna “segala puji bagi Allah”.

2.4 Bahasa dan Pranata Sosial                                                                                             Selanjutnya variasi sosial pengguna bahasa pada penuturnya dapat dilihat berdasarkan pranata sosial. Pranata sosial merupakan sistem norma dalam masyarakat yang bersifat resmi untuk mengatur tingkah laku guna memenuhi kebutuhan hidup. Pandangan yang berhubungan dengan variasi bahasa dalam pranata sosial yaitu Hipotesis Sapir-Whorf.

  •      Hipotesis Sapir-Whorf

Hipotesis yang dikemukakan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf berkaitan erat dengan kebudayaan. Hipotesis ini (melalui Cahyono, 1995: 417) menyatakan bahwa penutur bahasa menggogolong-golongkan dunia menurut batasan yang telah digariskan oleh bahasa asli yang dimilikinya. Namun, hipotesis Sapir-Whorf ini tidak dapat diterima sepenuhnya karena ada banyak faktor yang harus dilihat pada pengguna bahasa. Faktor tersebut adalah:

  1. Lingkungan fisik.

Lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat tersebut yang biasanya dalam perbendaharaan kata-kata. Misalnya orang non Eskimo bila dipandang dari segi penutur bahasa Inggris memiliki pengertian tentang snow merupakan salju dengan berbagai jenis tipe salju seperti salju basah, salju lembut, salju cair, salju di atas tanah, bongkahan salju, dan sebagainya sedangkan pada orang Eskimo salju memiliki nama yang berbeda dengan keadaan dan bentuk yang berbeda pula.

  1. Lingkungan sosial.

Lingkungan sosial dapat mencerminkan dan mempengaruhi struktur kosakata dalam berbahasa misalnya:

  • Kata family, pada orang Amerika family mencakup keluarga yang teridiri dari suami, istri, dan anak-anaknya sedangkan dalam bahasa Indonesia keluarga dapat mencakup orang-orang di luar suami, istri, dan anak-anaknya.
  • Orang Inggris menyebut semua saudara laki-laki dari bapak dan ibu dalam satu istilah yaitu uncle (paman), sedangkan orang Batak mempunyai panggilan yang berbeda untuk adik laki-laki dari ayah dan ibu dipanggil Uda/ Amanguda, kakak laki-laki dari ayah dan ibu dipanggil Tulang.
  • Orang Inggris memanggil anaknya dengan nama panggilan anak itu saja. Orang Jawa memanggil memanggil anaknya dengan namanya atau le, nang (untuk laki-laki) dan wuk, nduk (untuk perempuan). Orang Batak yang memanggil anaknya dengan nama atau mang (untuk laki-laki) dan nang, boru (untuk perempuan) kemudian orang Bali memanggil de (dari gede), dek (dari kadek), man (dari nyoman), dan tut (dari ketut) sesuai dengan urutan kelahirannya.
  1. Lapisan-lapisan masyarakat dan kasta.

Lapisan dan kasta dalam masyarakat menimbulkan jenjang dalam bahasa komunikasi. Hal ini dapat terlihat jelas pada beberapa suku di Indonesia yang memiliki sistem kasta seperti Bali dan Jawa. Penggunaan bahasa terlihat berbeda bila digunakan oleh orang tertentu pada kastanya masing-masing.

Pada masyarakat Bali terdapat empat kasta yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Brahmana merupakan golongan pendeta dan rohaniwan dalam suatu masyarakat dan merupakan golongan yang paling dihormati.      Ksatria  merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara dan ahli dalam bidang militer serta mahir menggunakan senjata.         Wesia merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya.         Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Ksatria, dan Wesia agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Berikut beberapa contoh perbedaan penggunaan bahasa dalam masyarakat Bali.

  1.                                    i.            Perbedaan yang digunakan untuk memanggil orang tua.

Brahmana :    Aji untuk ayah dan  Ibu untuk ibu

Kstaria       :    Aji untuk ayah dan Biang untuk ibu

Sudra         :    Bapal/ Guru untuk ayah dan Meme untuk ibu

  1.                                  ii.            Perbedaan dalam memanggil laki-laki yang telah memiliki anak.

Laki-laki dari kasta Brahmana akan disapa dengan ungkapan Atu Ida Bagus Aji demikian pula pada kasta Ksatria akan disapa Atu Anak Agung Aji.

Brahmana  :    Atu Ida Bagus Aji (Ida Bagus Kemenuh)

Kesatria     :    Atu Anak Agung Aji (Anak Agung Putera)

Panggilan di atas digunakan pada situasi formal dan untuk situasi non formal hanya menggunakan Gus Aji dan Gung Aji.

Untuk panggilan pada kasta Sudra oleh kasta Brahmana, Ksatria, dan Wesia menyapa dengan menggunakan:

I Made Latra – Men Sari

Ni Nyoman Latri – Pan Sari

Sari merupakan anak pertama dari pasangan suami istri tersebut

atau

I Made Latra – Bapak

Ni Nyoman Latri – Ibu

Bentuk lain terlihat pada bahasa Jawa yang dikenal memiliki variasi dalam berbahasa. Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Berikut contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.

Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”

  1. Ngoko: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèngndi?’
  2. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (krama desa/ substandar)
  3. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (krama desa/ krama substandar)
  4. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (tuturan krama yang salah alias krama desa)
  5. Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
  6. Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
    1. Nilai-nilai sosial yang yang berpengaruh pada bahasa masyarakat.

Nilai-nilai dalam masyarakat ini terlihat jelas dalam hal tabu. Tabu menyangkut tingkah laku yang terlarang dan dianggap tidak layak. Untuk itu tabu itu tidak digunakan dan diharapkan menggunakan kata lain. Tabu merupakan kenyataan linguistik dan kenyataan sosial tetapi tidak ada kaitannya dengan intelegensi. Misalnya: untuk roh halus yang dianggap penunggu sebuah pohon besar, Orang Jawa memanggilnya dengan sebutan mbah dan orang Batak memanggilnya dengan ompu yang berarti kakek; nenek. Orang Bali menyebut bikul (tikus) dengan istilah jero ketut.

  • Teori Inferioritas

Teori ini menganggap ada hubungan antara “bahasa yang jelek” dengan rendahnya derajat pemakai dalam masyarakat. Bahasa yang kurang baik dan menyimpang dari bahasa baku diakibatkan dari rendahnya pembawaan dari penuturnya. Teori ini terlihat jelas telah lamanya dikenal tutur Inggris Negro Amerika berbeda dengan tutur Inggris orang Amerika kulit putih. Bahasa Inggris orang Negro terlihat menyimpang dari bahasa Inggris baku (Sumarsono 2011: 94). Sumarsono menambahkan bahwa banyak para ahli lingusitik segan meneliti bahasa Inggris negro karena hal ini dianggap rasialis.

BAB III KESIMPULAN

Variasi bahasa terjadi karena kegiatan interaksi yang berbeda dari setiap manusia melainkan juga karena dari segi penuturnya yang tidak homogen. Setiap penutur melakukan kegiatan yang berbeda dan sudah tentu melakukan interasi yang berbeda di setiap waktunya. Variasi bahasa berdasarkan penuturnya dapat dibedakan berdasarkan jumlah penuturnya, usia, jenis kelamin, status sosial, dan kebudayaan (lingkungan). Status sosial sendiri dapat dibedakan berdasarkan pekerjaan dan pendidikan.

Variasi bahasa berdasarkan pekerjaan misalnya perbedaan kosakata pada komunikasi buruh, pedagang, guru, dokter, seniman, dan lain-lain. Setiap pekerjaan memiliki kosakatanya masing-masing yang terkadang hanya dapat dimengerti oleh kalangan mereka saja. Misalnya komunikasi antar dokter terdapat istilah-istilah yang kemungkinan besar hanya mereka yang tahu, begitu juga dengan supir, tukang becak, ataupun guru masing-masing memiliki kosakata tersendiri.

Agama dan pengaruhnya secara umum terhadap bahasa merupakan kajian yang termasuk baru dalam sosiolinguistik. Dalam hal variasi bahasa, misalnya, kosakata-kosakata religius banyak digunakan dalam situasi dan kondisi tertentu.

Berdasarkan tingkat pendidikannya variasi bahasa dapat terlihat bukan hanya pada isi pembicaraan tetapi luasnya kosakata yang mereka miliki. Secara umum, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka semakin luas pula kosakata yang dimiliki. Selain itu pada pelafalan kata yang digunakan. Pada umumnya seseorang yang menempuh pendidikan tinggi akan menguasai pelafalan bahasa jauh lebih baik dari orang-orang yang tidak menempuh pendidikan. Misalnya terdapat perbedaan jelas antara kosakata komunikasi seseorang yang tamat SMP dengan mahasiswa.

Pranata sosial juga mempengaruhi variasi bahasa dalam komunikasi. Misalnya pada keluarga ada perbedaan bahasa yang digunakan oleh anak ketika berbicara dengan orangtuanya. Anak juga akan memilih pola yang berbeda ketika berkomunikasi dengan rekan sejawatnya. Selain itu dalam pranata sosial, variasi bahasa yang terlihat juga diakibatkan adanya sistem kasta yang mengatur. Misalnya saja pada umat Hindu di Bali yang memiliki perbedaan tersendiri untuk berbicara dengan setiap kasta.

DAFTAR PUSTAKA

 

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.

Chaer, Abdul. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Darquennes, Jeroen & Vandenbussche, Wim. Language and religion as a sociolinguistic field of study: some introductory notes. Sociolinguistica, International Yearbook of European Sociolinguistics. 2012.

Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1996.  Bahasa, Konteks, dan Teks. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hasan, Ruqaiya. 2005. Language, Society, and Consciousness. UK: Equinox Publishing Ltd.

Laksana, I Ketut Darma. 2009. Tabu Bahasa: Salah Satu Cara Memahami Kebudayaan Bali. Denpasar: Udayana University Press.

Purwoko, Herudjati. 2008. Jawa Ngoko: Ekspresi Komunikasi Arus Bawah. Jakarta: Indeks.

Sumarsono. 2011. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardhaugh, Ronald. 2006. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publishing.

Wira, I Made. Sistem Kasta di Bali. 26 Oktober 2011. <http://imadewira.com/sistem-kasta-di-bali/>

Wikipedia. Bahasa Jawa. 23 Januari 2013. <id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s