Bahasa dan Budaya

Bahasa dan Budaya

“What we perceive is limited by the language in which we think and speak.”

Benjamin Lee Whorf – Language, Thought and Reality 1954

Telah dikukuhkan oleh para linguist bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetik hanya ada pada manusia. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu. Bahasa hidup berada di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. Dengan kata lain, budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut menentukan wajah dari bahasa itu atau terbalik?

Makalah ini akan menggambarkan hubungan antara bahasa dan budaya diawali dengan teori language relativity dan language detertiminism. Kemudian makalah ini akan berbicara tentang system kekerabatan dan system warna dalam kaitan bahasa dan budaya. Pada akhirnya penulis makalah ini akan cerita tentang multilingualisme.

 

  1. 1.      Bahasa

Batasan bahasa ditegaskan Widjono (2007:15) adalah system lambang bunyi ujaran

yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya komunikasi  ilmiah, bisnis, kerja, sosial dan budaya.

Sejalan dengan definisi mengenai bahasa, Kridalaksana dalam Chaer (2003:32) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Sebagai suatu system bahasa sekaligus bersifat sistematis. Artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, dengan kata lain, bahasa itu bukan merupakan suatu system yang tunggal, tetapi terdiri dari subsistem, seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Sedangkan arbitrer di sini artinya tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa  (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud lambang tersebut.

  1. 2.      Budaya

 

Budaya merupakan sebuah istilah yang sangat luas. Dan oleh keluasan itu, maka dalam literatur dapat ditemukan banyak sekali definisi. Di sini yang dimaksud dengan budaya bukan budaya dalam arti seni seperti musik, sastra atau seni rupa. Istilah budaya disini merupakan pengetahuan yang harus diketahui oleh seseorang yang hidup dalam masyarakat yang tertentu. Goodenough (di dalam Wardhaugh, 1992) menegaskan definisi ini:

 

a society’s culture consists of whatever it is one has to know or believe in order to operate in a manner acceptable to its members, and to do so in any role that they accept for any one of themselves”

 

Wardhaugh (1992) sendiri mengatakan: “Culture, therefore, is the ‘knowledge’ how that person must possess to get through the task of daily living.” Lebih umumnya lagi adalah definisi oleh Clifford Geertz (1926-2006): Culture is simply the ensemble of stories we tell ourselves about ourselves. Definisi di atas belum terlalu memperhatikan aspek bahasa dalam kaitan dengan budaya.

Hall (1997, h 2) memberikan definisi yang lebih jelas dan lebih dapat digunakan dalam bidang sosiolinguistik:

 

“To say that two people belong to the same culture is to say that they interpret the world in roughly similar ways and can express themselves, their thoughts and feeling about the world, in ways which will be understood by eachother”

 

Definisi ini mengatakan bahwa ketika dua orang dalam budaya yang sama berarti dua duanya dapat mengekspresikan dirinya, pikirannya dan perasaannya tentang dunia mereka dalam cara yang keduanya dapat dipahami. Kita tahu bahwa kelebihan manusia adalah berfikir dan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Selama dekade terakhir ini ada perdebatan sengit antara bahasa dan pikiran. Ada yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran adalah suatu identitas yang berdiri sendiri-sendiri. Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa bahasa dan pikiran tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Banyak orang yang mendukung mengenai pendapat kedua ini. Salah satu gagasan yang terkenal mengenai hubungan antara perbedaan bahasa secara antar budaya adalah hipotesis Sapir – Whorf yang sering disebut tesis Whorfian. Dalam bagian berikut hipotesis tersebut akan dijelaskan lebih ringkas.

 

 

  1. 3.      Hipotesis Whorfian

Edward Sapir adalah seorang antropolog linguistik yang mengajar di Universitas Yale, Sapir berpendapat bahwa bahasa dan budaya tidak bisa dipisahkan seperti koin yang tidak dapat dipisahkan diantara kedua gambarnya.

Budaya merupakan sebuah realitas yang ditentukan dengan bahasa, dan bahasa adalah sesuatu yang diwariskan secara kultural. Namun demikian, Sapir lebih menekankan bahwa bahasa yang menjadi penentu cara persepsi kita akan kenyataan. Lebih lanjut, Sapir menegaskan pendapatnya dengan menyatakan, bahwa ketika suatu komunitas sosial dihilangkan dari hidup seseorang individu, maka individu itu tidak akan pernah dapat belajar untuk berbicara, artinya mengkomunikasikan ide sesuai dengan tradisi dari masyarakat tertentu.

Sapir memandang bahwa kajian-kajian dalam Linguistik yang umumnya berkisar tentang pemahaman mengenai simbol, istilah atau terminologi Linguistik sebaiknya mulai beralih dan lebih terfokus kepada upaya memahami elemen-elemen bahasa yang menunjang terjadinya kesepahaman antara pengujar dan pendengar. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sapir –yang berbeda dengan Sausurre – yang menyatakan bahwa bahasa itu ada sejauh penggunaannya. Dikatakan dan didengar, ditulis dan dibaca.

Sedangkan Benjamin L. Whorf adalah seorang ahli, yang dikenal Sapir lewat kuliahnya yang diikuti Whorf. Karena minatnya sangat besar dalam bahasa, maka Whorf pun melakukan penelitian, antara lain tentang bahasa Indian Hopi.

Para peneliti membagi hipotesis Whorfian menjadi dua bagian, yaitu :

A. Determinisme Linguistik

Bahasa memandang bahwa struktur bahasa mengendalikan pikiran dan norma – norma budaya. Dengan arti lain manusia hanyalah sekedar hidup disuatu bagian kecil dunia yang dimungkinkan bahasa yang digunakannya. Jadi dunia yang kita ketahui terutama ditentukan oleh bahasa yang diajarkan oleh budaya kita. Maka perbedaan bahasa mempresentasikan juga perbedaan dasar dalam pandangan dunia berbagai budaya.

B. Relativitas Linguistik

Bahasa mengasumsikan bahwa karakteristik bahasa dan norma budaya saling mempengaruhi. Dengan arti lain, budaya dikontrol dan sekaligus mengontrol bahasa. Berdasarkan interpretasi ini bahasa menyediakan kategori-kategori konseptual yang mempengaruhi bagaimana persepsi penggunaannya dikode dan disimpan.

Hipotesis Sapir – Whorf menyatakan bahwa dunia yang kita ketahui terutama ditentukan oleh bahasa dalam budaya kita. “Kramsch (2001:11, 77) juga mengemukakan bahwa orang berbicara dengan cara yang berbeda karena mereka berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka berpikir dengan cara yang berbeda karena bahasa mereka menawarkan cara mengungkapkan (makna) dunia luar di sekitar mereka dengan cara yang berbeda pula”

Menurut Edward Sapir dan Benyamin Whorf, bahasa tidak saja berperan sebagai suatu mekanisme untuk berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai pedoman ke arah kenyataan sosial. Dengan kata lain, bahasa tidak saja menggambarkan persepsi, pemikiran dan pengalaman, tetapi juga dapat menentukan dan membentuknya. Dengan arti lain orang-orang yang berbeda bahasa : Indonesia, Inggris, Jepang, China, Korea, dan lain sebagainya cenderung melihat realitas yang sama dengan cara yang berbeda pula. Implikasinya bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya penekanan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan dan lain sebagainya.

Whorf menemukan dalam pekerjaan sebagai insinyur dalam bidang pencegahan kebakaran bahwa penutur dalam bahasa Inggris menandaikan tempat untuk bahan bakar (drigen bensin) dengan “full” atau “empty”. Whorf mengatakan bahwa implikasinya kata empty membuat orang disekitar drigen bensin itu kurang hati-hati. Padahal botol atau drigen bensin yang „empty“ sebenarnya penuh dengan gas dan dapat menyebabkan ledakkan yang jauh lebih bahaya daripada drigen yang penuh bensin. Whorf berpendapat bahwa struktur dalam bahasa kita dapat mempengaruhi perilaku kita.

Dalam kajiannya dengan bahasa Hopi, sebuah bahasa pribumi di Amerika, Whorf membandingkan bahasa tersebut dengan yang dia sebut „Standard Average Eropean“ (SAE) yaitu bahasa Inggris, bahasa Pirancis dan bahasa Jerman. Dia menemukan perbedaan antara istilah untuk orientasi dan waktu dalam pembandingan tersebut dan menyimpulkan bahwa karena ada perbedaan tersebut, persepsi penutur Hopi juga berbeda dengan persepsi penutur SAE.

Ketika kita melihat kaitan antara bahasa dan budaya dengan pandangan Whorf, berarti bahasa memfasilitasi sebuah filter untuk realitas kita. Bahasa mendeterminasi bagaimana penutur memperoleh dan mengorganisasi dunia alami dan dunia sosial yang ada di sekitar mereka.

Pada hipotesis Whorfian muncul pendukung maupun banyak orang linguist yang mengkritik hipotesis tersebut. Linguist yang mendukung Whorf mengatakan bahwa memang ketika ada sebuah istilah khusus dalam suatu bahasa maka untuk penutur lebih mudah untuk meracu pada istilah itu.(lht. Wardhaugh, 222- 223) Sebagai contohnya istilah „latah“ tidak ada dalam bahasa Jerman dan untuk saya sebagai penutur bahasa Jerman asli, sangat sulit untuk menjelaskan fenomena tersebut dalam bahasa Jerman ataupun membayangkan dan memjelaskan ke diriku sendiri.

Linguist yang mengkritisiasi hipotesis Whorf katakan bahwa ketika hipotesisnya benar, maka tidak ada kemungkinan untuk menjelaskan istilah yang khusus itu dalam sebuah bahasa dimana istilah tersebut tidak ada. Kita harus menganggap bahwa semua bahasa memiliki sumber linguistik seperlunya yang memungkinkan penuturnya untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.

 

  1. 4.      Sistem Kekerabatan

Suatu cara yang menarik untuk diteliti dimana manusia menggunakan bahasa adalah dalam hidup sehari-hari ketika merujuk terhadap kekerabatan. Oleh karena sistem kekerabatan memiliki kebersamaan dalam semua bagian dunia ini, tetapi manusia menggunakan sistem berbeda untuk berbicara tentang kekerabatan mereka. Tentang topik ini ada banyak literatur dan kajian. Beberapa sistem jauh lebih kaya daripada sistem lain dan peraturannya berbeda-beda. Dalam bahasa Jerman misalnya, istilah untuk “brother” dan “sister” hanya digunakan untuk kakak atau adik laki-laki atau perempuan, sangat berbeda dengan bahasa Indonesia, dimana istilah kakak/adik juga dapat digunakan dalam hubungan sosial yang lain, yang tidak semestinya merancu pada hubungan dalam keluarga.

 

Gambar 1: Kinship Systems.

Sumber: http://missionsmisunderstood.com/wp-content/uploads/2011/07/2000px-Kinship_Systems.svg_.png

Seperti dapat dilihat di gambar diatas, dalam berbagai system kekerabatan hubungan yang berbeda kadang-kadang dikasih istilah yang sama dan kadang-kadang hubungan yang similar ditandai dengan istilah berbeda. Untuk mengerti kenapa system itu bisa berbeda-beda, harus ada pengetahuan tentang kebudayaan penuturnya.

Dengan perubahan sistem kebudayaan dapat disimpulkan bahwa sistem kekerabatan juga akan berubah dan mereflek perubahan tersebut.

 

  1. 5.      Multikulturalisme

 

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Pengertian multikulturalisme menurut beberapa ahli:

  • “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
  • Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
  • Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
  • Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
  • Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).

Jenis Multikulturalisme == Berbagai== macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):

  1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
  2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
  3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
  4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
  5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu.

Multikultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.

Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.

Perbedaan budaya merupakan sebuah konduksi dalam hubungan interpersonal. Sebagai contoh ada yang orang yang bila diajak bicara (pendengar) dalam mengungkapkan perhatiannya cukup dengan mengangguk-anggukan kepala sambil berkata “uh. huh”. Namun dalam kelompok lain untuk menyatakan persetujuan cukup dengan mengedipkan kedua matanya. Dalam beberapa budaya, individu-individu yang berstatus tinggi biasanya yang memprakarsai, sementara individu yang statusnya rendah hanya menerima saja sementara dalam budaya lain justru sebaliknya.

Kita dapat mengekspresikan perasaan dan budaya kita dengan komunikasi kita, tidak hanya dengan menggunakan tetapi bisa jadi menggunakan gerakan. Namun di berbagai negara gerakan dapat diinterpretasikan dalam cara yang berbeda, sehingga, menurut saya, lebih baik menggunakan bahasa khusus daripada gerakan agar tidak membuat orang lain frustrasi.

Oleh karena itu, apa yang kita sebut budaya dan bahasa terkait satu sama lain, bahwa kita tidak bisa memisahkan mereka dari satu sama lain.

Jadi, kenapa budaya itu beda? Mengapa ia penting? Karena: budaya adalah kehidupan yang kita representasikan; ia adalah bagian dari identitas kita; cara hidup yang unik; kebiasaan kita, ritme kita, makanan kita; dan tentu saja, budaya adalah bahasa kita!

Bahasa ditentukan oleh budaya. Setiap budaya memiliki bahasanya sendiri, alat untuk berekspresi. Bahasa adalah jalan dalam peta budaya. Bahasa memberitahu anda, dari mana seseorang berasal, dan kemana mereka akan pergi. Bahasa sangat penting untuk memahami perspektif budaya kita yang unik. Bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Bahasa adalah budaya dan budaya adalah bahasa.

Kita, para calon guru bahasa, sebaiknya mengajarkan bahasa pada siswa kita dengan budaya berperilaku kita yang baik!

 

Daftar pustaka:

 

Aan Setyawan. (2011). UNDIP, Bahasa dalam perspektif kebudayaan dan Sosiolingustik (International Seminar “Language Maintenance and Shift”.

Coupland, N. & Jaworski, A. (1997). Sociolinguistics – A Reader And Coursebook. Macmillan Press. Hampshire

Edwards, J. (1994). Multilingualism. London and New York

Jufrizal.  Hipotesis Sapir-Whorf dan Struktur Informasi Klausa Pentopikalan Bahasa Minangkabau. (Denpasar : Program Pasca Sarjana Universitas Udayana –tidak diterbitkan- , 2004). Hal. 12

Wardhaugh, R. (1992). An Introduction to Sociolinguistics. Second Edition. Blackwell Publishers. Oxford.

Wahyu Widiarso. Pengaruh Bahasa Terhadap Pikiran Kajian Hipotesis Benyamin Whorf dan Edward Sapir. (Fakultas Psikologi UGM : Tidak diterbitkan, 2005). Hal. 10

wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme  (20.05.2013)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s