Tindak Tutur (H.P.Grice 1975)

  1. A.    Tindak tutur dan Pragmatik

Tindak tutur sebenarnya salah satu fenomena dalam masalah yang lebih luas, yang dikenla dengan istilah pragmatik. Pragmatik sendiri lazim diberi definisi sebagai “telaah mengenai hubungan di antara lambang dan penafsiran” (Purwo, 1990). Yang dimaksud dengan lambang disini adalah satuan ujaran, entah berupa satu kalimat atau lebih, yang membawa makna tertentu, yang di dalam pragmatik ditentukan atas hasil penafsiran si pendengar.

Seperti yang pernah diungkapkan juga oleh Keith Allan (1986), aktivitas bertutur itu sesungguhnya adalah kegiatan yang berdimensi sosial. Seperti lazimnya kegiatan-kegiatan sosial lainnya, kegiatan bertutur itu dapat berlangsung dengan baik hanya apabila para peserta pertuturan itu semuanya terlibat aktif di dalam proses bertutur tersebut. Apabila terjadi satu pihak atau beberapa pihak tidak terlibat secara aktif di dalamnya, maka dapat dipastikan bahwa pertuturan tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan lancar. Berikut ini adalah gagasan yang disampaikan Keith Allan  (1986) lebih lanjut dijelaskan pula akar bahasa  ini bahwa agar proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan dengan baik, masing-masing terlibat di dalam proses bertutur haruslah dapat saling bekerja sama dengan baik. Selanjutnya ia juga berpendapat bahwa bekerja sama yang baik dalam proses berutur itu salah satunya dapat dilakukan dengan berperilaku sopan kepada pihak lain. Sehubungan dengan hal itu, maka ia berpendapat bahwa “being cooperative is being polite (mostly). Berperilaku sopan sesungguhnya hanya dapat dilakukan dengan cara memperhitungkan harga diri atau “muka” dari sang mitra tutur dalam kegiatan bertutur. Tanpa perhatian dan pertimnangan yang baik terhadapa muka atau harga diri dang mitra tutur, mustahil kesantunan dalam aktivitas bertutur dapat terwujud.

Agar pesan dapat sampai dengan baik pada peserta tutur, komunikasi yang terjadi itu perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip berikut ini : (1) prinsip kejelasan (clarity), (2) prinsip kepadatan (conciseness) dan (3) prinsip kelangsungan (directness). Jadi pada intinya, tuturan yang hendak disampaikan itu harus jelas, harus padat dan harus berciri langsung agar dpat dipahami secara baik oleh mitra tutur.

BAB II

PEMBAHASAN

              

  1. A.    Implikatur

Di dalam pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar berkomunikasi karena mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan itu saling dimengerti. Grice (1975; Kunjana, 2007) di dalam artikelnya berjudul “Logic and Conversation” menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan.

Implikatur percakapan mengacu kepada jenis “ kesepakatan bersama”antara penutur dan lawan tuturnya, kesepakatan dalam pemahaman, bahwa yang dibicarakan harus saling berhubungan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak  terdapat pada masing-masing ujaran. Artinya, makna keterkaitan itu tidak diungkapkan secara harafiah pada ujaran itu. Jadi, implikatur percakapan itu dapat  dikatakan sejenis makna yang terkandung dalam cakapan yang  dipahami oleh masing-masing partisipan.

Selanjutnya implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang terdapat di dalam percakapan yang timbul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Sejalan dengan batasan tentang implikasi pragmatik, implikatur percakapan itu adalah proposisi atau “pernyataan” implikatif, yaitu apa yang mungkin diartikan, disiratkan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur di dalam suatu percakapan. Implikatur percakapan terjadi karena adanya kenyataan bahwa sebuah ujaran nyang mempunyai implikasi berupa proposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan itu.

Di dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud tertentu yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak. Pembahasan tentang implikatur mencakupi pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan. Di dalam teorinya itu, ia membedakan tiga jenis implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan praanggapan. Selanjutnya implikatur nonkonvensional dikenal dengan nama implikatur percakapan. Selain ketiga macam implikatur itu, ia pun membedakan dua macam implikatur percakapan, yaitu implikatur percakapan khusus dan implikatur percakapan umum.

Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperolah langsung dari makna kata, bukan dari prinsip percakapan. Tuturan berikut ini mengandung implikatur konvensional. Contoh:

(1)   Lia orang Tegal, karena itu kalau bicara ceplas-ceplos.

(2)   Poltak orang Batak, jadi raut mukanya terkesan galak.

Implikasi tuturan (1) adalah bahwa bicara ceplas-ceplos Lia merupakan konsekuensi karena ia orang Tegal. Jika Lia bukan orang Tegal, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa bicara ceplas-ceplos Lia karena ia orang Tegal. Implikasi tuturan (2) adalah bahwa raut muka galak Poltak merupakan konsekuensi karena ia orang Batak. Jika Poltak bukan orang Batak, tentu tuturan itu tidak berimplikasi bahwa raut muka galak Poltak karena ia orang Batak.

Implikatur nonkonvensional atau implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang tersirat di dalam suatu percakapan.  Di dalam komunikasi, tuturan selalu menyajikan suatu fungsi pragmatik dan di dalam tuturan percakapan itulah terimplikasi suatu maksud atau tersirat fungsi pragmatik lain yang dinamakan implikatur percakapan. Berikut ini merupakan contoh tuturan di dalam suatu percakapan yang mengandung suatu implikasi percakapan.

(3)   A  : ”HP mu baru ya? Mengapa tidak membeli N70 aja?”

(4)   B   : ”Ah, harganya terlalu mahal.”

Implikatur percakapan tuturan itu adalah bahwa HP yang dibeli A murah sedangkan HP N70 harganya lebih mahal daripada HP yang dibeli A.

Dua dikotomi implikatur percakapan selanjutnya adalah implikatur percakapan umum dan implikasi percakapan khusus. Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Sebagai contoh tuturan (1) hanya berimplikasi (2) jika berada di dalam konteks khusus seperti pada percakapan (3) berikut ini :

(1)   Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan datang. (tuturan)

(2)   Ibu belum pulang dari pasar.(implikasi)

Implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus. Implikatur (1) sebagai akibat adanya tuturan (2) merupakan implikatur percakapan umum.

(3)   Saya menemukan uang.

(4)   (Uang itu bukan milik saya)

Senada dengan pendapat sebelumnya Grice (Mujiyono, 1996:40) mengemukakan ada 5 ciri-ciri dari implikatur percakapan, yakni:

1)        Dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara eksplisit ataupun dengan cara kontektual (cancellable).

2)        Ketidakterpisahan implikatur percakapan dengan cara menyatakan sesuatu. Biasanya tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu, sehingga orang memakai tuturan bermuatan implikatur untuk menyampaikannya (nondetachable).

3)        Implikatur percakapan mempersyaratkan makna konvensional dari kalimat yang dipakai, tetapi isi implikatur tidak masuk dalam makna konvensional kalimat itu (nonconventional).

4)        Kebenaran isi implikatur tidak tergantung pada apa yang dikatakan, tetapi dapat diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan (calcutable).

5)        Implikatur percakapan tidak dapat diberi penjelasan spesifik yang pasti sifatnya (indeterminate).

Oleh karena itu, Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar, yaitu prinsip kerja sama. Kerjasama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat maksim, yaitu :

1)      Maksim Kuantitas

Di dalam maksim ini, seorang penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Sebuah informasi yang dianggap cukup memadai demikian itu sesungguhnya tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh mitra tutur dalam aktivitas bertutur. Tuturan yang tidak mengandung infromasi yang sungguh-sungguh diperlukan oleh mitra tutur dalm aktivitas bertutur demikan itu dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas dalam prinsip kerjasama Grice (Kunjana, 2007 : 54). Demikian sebaliknya, apabila tuturan itu mengandung informasi berlebihan, yang berlimpah-limpah, maka akan dapat dikatkan bahwa demikian itu melanggar maksim.

Contoh :

(a)   “Lihat itu Muhammad Ali mau bertanding lagi !”

(b)   “Lihat itu Muhammad Ali yang mantan petinju kelas berat itu mau bertanding lagi !”

Informasi : tuturan  (a) dalam contoh di atas merupakan tuturan yang sudah jelas dan sangat infromatif isinya. Dapat dikatakan demikian, karena tanpa harus ditambah dengan informasi lain, tuturan itu sudah dapat dipahami maksudnya dengan baik dan jelas oleh si mitra tutur. Penambahan informasi seperti ditunjukkan pada tuturan (b) justru membuat tuturan menjadi berlebihan dan terlalu panjang.

Pernyataan yang demikian dalam banyak hal, kadang-kadang, tidak dapat dibenarkan. Dalam masyarakat dan budaya Indonesia, khususnya kultur masyarakat Jawa, justru ada indikasi bahwa semakin panjang sebuah tuturan akan semakin sopanlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin pendek sebuah tuturan, akan semakin tidak sopanlah tuturan itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa  untuk menunjukkan maksud kesantunan tuturan dalam bahasa Indonesia, dalam hal tertentu penutur harus melanggar dan tidak menepati prinsip kerjasama ini. Tuturan berikut ini conoth yang menunjukkan perbedaan tingkat kesantunan tuturan sebagi akibat dari perbedaan panjang-pendeknya tuturan  :

(1)   Bawalah koran itu ke tempat lain”

(2)   “Tolong bawalah koran itu ke tempat lain !”

(3)   Silahkan koran itu diabawa ke tempat lain dahulu !”

Informasi (1-3) dituturkan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya di dalam ruangan yang kebetulan mejanya berserakan dengan koran bekas diatasnya.

Maksim kuantitas ini sesungguhnya hendak menegaskan perlunya pertimbangan ketercukupan informasi/ “information sufficiency” dalam praktek bertutur. Akan tetapi perlu dicatat pula bahwa maksim ini sebenarnya juga tidak sepnuhnya berlaku dan dapat diterapkan secara universal dalm semua bahasa. Di dalam masyarakat yang cenderung berciri tidak individul, banyak ditemukan fakta orang ‘ngerumpi, ngobrol’ sambil duduk-duduk dengan berlam-lama. Tentu saja, maksim di dalam format bertutur tersebut, maksim kuantitas sma sekali tidka dpat diterpakan. Artinya pula, di dalm prinsip kerjasama ini sesungguhnya juga berlaku spesifik (Kunjana, 2009 : 23).

2)      Maksim Kualitas

Maksim ini mengharapkan seorang penutur dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya di dalam aktivitas bertutur sesungguhnya. Fakta kebahasaan yang demikian itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas, konkrit, nyata dan terukur. Maka sebuah tuturan akan dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik apabila tuturan sesuai dengan faktanya, sesuai dengan keadaan sesungguhnya, tidak mengada-ada, tidak dibuat-buat, tidak direkayasa. Jadi, sesuai dengan maksim ini, selalu berusahalah agar dalam praktek bertutur apa yang sebenarnya, kualitas pertuturan itu benar-benar dijaga (Kunjana, 2007 : 55). Caranya, selalu sampaikanlah kenyataan itu sesuai dengan fakta dan keadaan sesungguhnya

Akan tetapi pertanyaan reflektifnya, betulkah bahwa di dalam setiap praktek bertutur sapa sesaungguhnya kenyaatn kebahasaan demikan itu selalu harus terjadi? Jawabannya, tentu saja tidak, memang tidak selalu begitu. Misalnya, dalam banyak hal masyarakat Jawa, dan juga masyarakat bahasa lainnya, perlu  menyampaikan pesan dalam bertutur sapa. Istilah ‘sugar-coating’ dalam berkomunikasi dengan sesama sepertinya juga merupakan istilah yang berseberangan dnegan maksim kualitas. Adapun yang dimaksud denga prinsip ‘sugar-coating’ adalah prinsip untuk ‘membalut’ infromasi yang tidak tepat sehingga menjadi terasa lebih tepat dnegan cara sedikit diubah dan ‘dimaniskan’. Dalam banyak hal pula, orang perlu sekali untuk berbohong, tetapi ‘berbohong yang putih’ alias ‘white lies’. Dengan adanya ini pula, maksim kualitas dalm prinsip kerjasama ini harus dilanggar. Akan tetapi, pelanggaran maksim itu ternyata justru dimaksudkan untuk mengoptimalkan dan menyempurnakan relasi dalm komunikasi (Kunjana, 2009 : 24). Tuturan (a) dan (b) pada bagian berikut dapat dipertimbangkan untuk memperjelas pernyatan ini.

(a)   “Silahkan menyontek saja biar nanti saya mudah menilanya”

(b)   Jangan menyontek, nilainya bisa E nanti !”

Informasi : tuturan  (a) dan (b)dituturkan oleh dosen kepada mahasiswanya di dalam ruang ujian pada saat ia melihat ada seorang mahasiswa yang sedang berusaha melakukan penyontekkan.

Tuturan (b) jelas memungkinkan terjadinya kerjasama anatara penutur dan mitra tutur. Tuturan (a) dikatakan melanggar maksim kualitas karena penutur mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan seharusnya dilakukan seorang dosen. Akan menjadi sesuatu kejanggalan apabila di dalm dunia pendidikan terdapat dosen yang mempersilahkan para mahasiswanya  melakukan penyontekan saat ujian berlangsung.

Dalam komunikasi sebenarnya, penutur dan mitra tutur sangat lazim menggunakan tuturan yang tidak senyatanya dan tidak disertai dengan bukti-bukti yang sejelas. Bertutur yang terlalu langsung dan tanpa basa-basi dengan disertai bukti-bukti yang jelas dan apa adanya justru akan membuat tuturan menjadi kasar dan tidak sopan. Denga perkataan lain, untuk bertutur  yang santun maksim kualitas ini seingkali tidak dipatuhi dan tidak dipenuhi. Tuturan (a), (b) dan (c) berikut secara berturut-turut berbeda dalam peringkat kesantunannya dan dapat dipertimbangkan untuk mempertimbangkan untuk memperjelaskan pernyataan di atas.

(a)   “Pak, minta uangnya untuk besok”

(b)   “Bapak, besok beli bukunya bagaimana?”

(c)    “Bapak, besok aku jadi ke Gramedia, bukan?”

Informasi tuturan (a,b,c) dituturkan oleh seorang anak yang sedang minta uang kepada bapaknya. Tuturan tersebut dituturkan dalam konteks situasi tutur yang berbeda-beda.

3)      Maksim Relevansi

Di dalam maksim relevansi dengan tegas dinyatakan bahwa agar dapat terjalin kerjasama yang sungguh-sungguh baik antara penutur dan mitra tutur dalam praktek bertutur sapa yang sesungguhnya masing-masing hendaknya berkontribusi yang benar-benar relevan tentang sesuatu yang sedang diperbincangkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang relevan seperti itu, akan dapat dianggap tidak mematuhi dan maelanggar prinsip kerjasama Grice (Kunjana, 2007 : 56). Jadi, itulah sesungguhnya hal pokok yang harus dipahami di dalam prinsip relevansi. Setiap orang yang terlibat di dalam praktek bertutur itu harus berkontribusi secara relevan terhadap setiap aktivitas pertuturan.

Sebagai contoh, apabila di dalam praktek bertutur sapa terdapat pihak tertentu yang menjawab spertanyaan secara tidak relevan dengan sesuatu yang hendak ditanyakan, maka kelucuan yang akan ditemukan. Maka sesungguhnya dapat dikatakan bahwa kejenakaan/kelucuan dalam aktivitas bertutur sebenarnya dapat diperoleh, salah satunya dengan cara, menyelewengkan maksim relevansi dalm prinsip kerjasama Grice.

Tidak setiap waktu orang harus berbicara dengan memegang teguh prinsip relevansi. Untuk maksud-maksud yang tidak sepenuhnya informatif, bisa jadi orang memang dengan sengaja melanggar maksim relevansi di dalam komunikasi ini. Kearifan-kearifan lokal tertentu yang berwujud ‘dagelan,guyon maton, ludruk, ketoprak humor’. Sesungguhnya banyak memerantikan kepiawaian di dalam mendayagunakan maksim relevansi maka perbincangkan-perbincangkan yang khas dan natural dalam sebuah masyarakat dengan mudah dapat dilakukan (Kunjana, 2006 : 26). Sebagai ilustasi atas pernyatan itu perlu dicermati tuturan berikut ini :

(a)   Dewa   : “Namun sebelum kau pergi, letakkanlah kata-kata ini didalam hati!”

(b)   Semar  : “Hamba bersedia, ya Dewa.”

Informasi : tuturan ini dituturkan oleh sang dewa kepada tokoh Semar dalm sebuah adegan perwayangan.

Pertuturan diatas dapat dikatakan mematuhi dan menepati maksim relevansi. Dikatakan seperti itu karena apabila dicermati lebih dalam, tuturan (a) merupakan tanggapan atas perintah dewa yang dituturkan sebelumnya yakni tuturan (b). Untuk maksud-maksud tertentu, misalnya menunjukan kesantunan tuturan, ketentuan yang ada pada maksim itu seringkali tidak dipenuhi oleh penutur. Berkenaan dengan hal ini, tuturan berikut ini :

(a)   Direktur           : “Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu !”

(b)   Sekretaris        : “Maaf Bu, kasihan sekali nenek tua itu.”

Informasi : dituturkan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja direktur. Pada saat itu, ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama.

Dengan tuturan di atas dapat dipakai sebagi salah satu bukti bahwa maksim relevansi dalam prinsip kerjasama tidak selalu harus dipenuhi dan dipatuhi dalm pertuturan sesungguhnya. Hal seperti itu dapat dilakukan, khususnya, apabila tuturan tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan maksud-maksud tertentu yang khususnya sifatnya.

4)      Maksim Pelaksanaan

Maksim pelaksanaan dalam prinsip kerjasama Grice mengharuskan setiap peserta pertuturan dalam aktivitas bertutur sapa yang sebenarnya menyampaikan infromasi dengan secara langsung, dengan jelas, tidak kabur, tidak samar, tidak berbelit-belit. Ornag bertutur yang tidak dengan secara cermat mempertimbangkan hal-hal yang disampaikan di depan itu akan dikatkan sebgai pelanggar terhadap prinsip kerjasama Grice (Kunjana, 2007 : 57).

Berkenaan dengan itu, tuturan berikut ini sebagai contoh ilustrasinya :

(a)   “Ayo cepat dibuka !”

(b)   “Sebentar dulu, masih dingin.”

Informasi : dituturkan oleh seorang kakak kepada adiknya.

Cuplikan  diatas memilki kadar kejelasan yang rendah. Karena kadar kejelasan rendah dengan sendirinya kada kekaburannya menjadi sangat tinggi. Tuturan si penutur (a) sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta si mitra. Kata ‘dibuka’ dalam tuturan diatas juga mengandung kadar kekaburan sangat tinggi. Oleh karenannya, makna pun menjadi kabur. Dapat dikatakan demikian, karena kata itu dimungkinkan untuk ditafsirkan bermacam-macam. Begutu pula dengan tuturan yang disampaikan oleh si mitra tutur (b) mengandung kadar kekaburan yang cukup tinggi. Kata ‘dingin’ pada tuturan itu dapat mendatangkan banyak kemungkinan persepsi penafsiran karena di dalam tuturan itu tidak jelas apa sebenarnya yang masih ‘dingin’ itu. Tuturan tersebut dapat dikatakn melanggar prinsip kerjasama Grice karena tidak mematuhi maksim pelaksanan.

Dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya pada masyarakat Indonesia, ketidakjelasan, kekaburan dan ketidaklangsungan merupakan hal yang wajar dan sangat lazim terjadi. Sebagai contoh berikut dapat digunakan sebagai ilustrasi :

(a)    Anak   : “Bu, besok saya kan pulang lagi ke kota.”

(b)   Ibu       : “Itu sudah saya siapkan di laci meja.”

Informasi :  dituturkan oleh seorang anak desa yang masih menjadi mahasiswa, kepada ibunya pada saat ia meminta uang saku untuk hidup di kota. Tuturan itu terjadi waktu mereka berada di dapur sedang memasak bersama.

Dari cuplikan di atas, tampak bila tuturan yang dituturkan sang anak (a) relatif kabur maksudnya. Maksud yang sebenarnya dari tuturan si anak itu, bukannya ingin memberitahukan kepada sang Ibu bahwa ia akan segera kembali ke kota, melainkan lebih dari itu, yakni ia sebnarnya ingin menanyakan apakah sang ibu sudah menyiapkan sejumlah unag yang diminta sebelumnya. Seperti telah disampaikan sebelumnya, di dalam masyarakat terkadang seseorang terlibat dalam pertuturan diharapkan dapat membaca maksud tersembunyi dari si mitra tutur. Dengan kata lain, peserta tutur di dalam sebuah pertuturan harus dapat membaca maksud terselubung dari si penutur. Dengan demikian, jelas bahwa dalm komunikasi yang sebenarnya, maksim pelaksanaan pada prinsip kerjasama Grice itu seringkali tidak dipatuhi atau bahkan mungkin harus dilanggar.

  1. B.     Contoh Penelitian menggunakan Analisis Impikatur Grice
  • Kajian Implikatur Wacana Pojok “Mang Usil” Kompas, “Mr. Pecut” Jawa Pos dan pojok KR Kedaulatan Rakyat. Oleh :  Arif Budianto. 2012

a)        Identifikasi Masalah

Maksud dan isi dari wacana pojok “Mang Usil” Kompas, “Mr. Pecut” Jawa Pos dan pojok KR Kedaulatan Rakyat yang bersifat implikatif.

b)        Rumusan Masalah

Apa maksud dan isi yang tersembunyi dari wacana pojok “Mang Usil” Kompas, “Mr. Pecut” Jawa Pos dan pojok KR Kedaulatan Rakyat?

c)                   Hasil Analisis

Wacana Pojok Mang Usil (Kompas, 15 Juni 2012)

Diintai sejak di Malaysia, Neneng Sri Wahyuni tertangkap di Jakarta.

Kisah teringkusnya bak sinetron!

Situasi wacana di atas menyatakan bahwa Neneng Sri Wahyuni tertangkap di Jakarta, meskipun diintai sejak berada di Malasyia. Wacana “Mang Usil” pada kalimat sindiran di atas mempunyai makna sebuah sindiran bagi aparat penegak hukum negara ini. Bagaimana mungkin seseorang yang menjadi buronan sejak berada di Malaysia tertangkapnya malah di Indonesia. “Mang Usil” dalam wacana di atas menyentil atas  tindakan aparat dengan menuliskan wacana kisah teringkusnya bak sinetron. Kemungkinan memang benar apa adanya, bahwa pelarian dan penangkapan Neneng Sri Wahyuni seolah-olah sudah di atur. Lucunya mengapa tidak saat Neneng Sriwahyuni di Malaysia ditangkapnya? Dan lucunya lagi dari pihak KPK selaku aparat negara yang menangani kasus korupsi seperti yang dilakukan Neneng berbeda presepsi dengan pihak pengacara Nazaruddin. KPK mengatakan bahwa Neneng ditangkap, sementara pihak Nazaruddin mengatakan Neneng menyerahkan diri karena ingin menyelesaikan kasus yang selama ini menjadi polemik.

  • Analisis Implikatur dalam Iklan Indosat im3-chatting. Oleh : Ahyan Puja dkk. 2013

a)             Hasil Analisis

Percakapan

A          : “Ngapain cin?”

B          :  “Lagi garing 3 bulan nggak ada dating.”

A          : “Cari donk lewat chatting”

B          : “Dompet kering, yang ada rambut diri kaya don king”

Pada percakapan kedua yang dituturkan  “B” mengandung implikatur, yaitu frasa “ dompet kering ” yang berarti dia nggak bisa chatting karena tidak punya uang untuk membeli paket chatting atau internet.

  • ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN IKLAN DJARUM 76 VERSI KONTES JIN oleh : Nur Hady Eko Setiawan. UNIVERSITAS SEBELAS MARET. 2012

(a)    HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti mengambil salah satu iklan Djarum 76 yakni dengan tema iklan Bercerita mengenai sebuah “KONTES SULAP JIN” yang di ikuti oleh beberapa perwakilan pesulap dari 3 negara, yakni Jin Mesir, Jin Jepang, dan Jin indonesia dengan tujuan unjuk kebolehan dan seberapa mahir pesulap-pesulap ini memperlihatkan keahlian mereka bermain sulap.

Pesulap mesir menampilan berupa trik sulap menghilangkan piramida mesir. “Piramida lenyap,” kata Jin Mesir. Kemudian tak mau kalah, pesulap jepang juga melenyapkan gunung fujiyama yang semula ada menjadi raib.”Fujiyama hilang,” kata Jin Jepang.

Tibalah kesempatan untuk Jin indonesia unjuk gigi, dengan gaya selengekan dan santainya, si pesulap indonesia membawa berkas-berkas kasus korupsi yang kemudian di sulap menjadi hilang tanpa bekas. “Kasus Korupsi hilang,” kata Jin Indonesia. Kemudian Jin Jawa disambut dengan sorak gembira para koruptor indonesia terlihat jelas salah satunya sosok tiruan Gayus Tambunan. Dan jin dari indonesia yang keluar menjadi juara, sedangkan jin dari mesir dan jepang terperangah melihat keahlian jin Indonesia seraya menyembah-nyembah.

Dari sepenggal cuklipan percakapan iklan Djarum 76 versi kontes jin mengandung implikatur bahwa berbagai kasus korupsi yang melanda Indonesia kini secara lambat laun mulai menghilang. Hal itu terbukti dalam permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia yangmana mereka dihadapakan pada negeri yang penuh dengan koruptor. Dimulai dari kasus Bank Century, Lembaga Pajak Indonesia sampai kasus Wisma Atlet Hambalang yang belum kunjung jelas akhirnya. Mengacu pada fenomena masyarakat Indonesia, penikmat televisi khususnya iklan Djarum 76 versi Kontes Jin telah memiliki reportoar yang sama bahwa pejabat-pejabat  penting Indonesia telah berkorupsi. Berkas-berkas yang telah dilenyapkan Jin Indonesia menandakan bahwa proses hukum Indonesia sangat berbelit-belit menangani korupsi sehingga lambat laun dapat menghilang. Terbukti kasus Bank Century, saat ini tidak diketahui lagi bagaimana akhir perjalanannya

  • ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN SING LUCU PADA MAJALAH PANJEBAR SEMANGAT. 2010

a)      Hasil Analisis

Segitiga Bermuda

Konteks: Wayah bengi nalika si Anak lagi sinau geografi. Ana babagan sing dheweke ora mangerteni. Ngerti ana bapake lagi ngancani sinau, si anak banjur nakokake babagan kuwi.

Anak    : “Bapak ngerti Segitiga Bermuda, Pak?”

Bapak : “Ora. Mulane suk maneh nek ndeleh apa-apa iku sing maton, ta. Supaya nek pinuju butuh ora bingung olehe nggoleki.”

Anak   : … ???!!!

Percakapan tersebut merupakan implikatur percakapan, melanggar prinsip kerjasama, maksim kuantitas. Maksim kuantitas berisi nasihat yang menyangkut jumlah konstribusi yang disumbangkan oleh para peserta percakapan terhadap koherensi percakapan. Percakapan diatas melanggar bidal kuantitas dikarenakan penutur tidak menggunakan keefisienan kata (banyaknya kata tidak sesuai dengan kebutuhan)
– Jika kontribusi yang diberikan sedikit hendaknya penutur memberikan kontribusi yang sedikit pula, demikian sebaliknya.
– Seharusnya bapak cukup menjawab dengan jawaban Ora, atau hanya menjawab Ora, lha piye to? Dalam jawaban yang diberikan oleh bapak sudah melanggar prinsip kerjasama bidal kuantitas. Tidak meminimalkan kejelasan jawaban.

  • ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM TINDAK KOMUNIKASI DI KELOMPOK TEATER PERON FKIP UNS.  Oleh: Rudi Adi Nugroho.

(a)    Analisis Data Percakapan (2)

Dalam beberapa dialog yang muncul, sebagian besar sudah terlihat cukup konvensional, hanya saja memang terjadi pengefaktifan penggunaan kata, seperti pada dialog 2, 3, dan 4, terjadi penghilangan “…(pasang pamflet) ngarep…” dan “Jatah (pamflet sing dipasang) mburi piro?”. Dalam percakapan ini terdapat suatu implikatur percakapan, yang terlihat pada dialog terakhir “Ngko tak sapu dewe” 6 yang dapat diartikan “Nanti saya sapu sendiri”. Tuturan yang terlontar akan sulit dimengerti kalau hanya memaknai secara harfiah saja tuturan tersebut, karena ketika diartikan secara harfiah akan didapatkan makna bahwa “Otong akan menyapu STSI sendiri”. Padahal, konteks yang terjadi adalah perlu adanya orang yang memasang pamflet untuk daerah STSI. Tuturan tersebut tetap berlangsung karena implikasi dari tuturan tersebut telah dipahami mitra tuturnya yaitu bahwa Otong sendiri yang akan memasang pamflet untuk daerah STSI. Untuk implikatur dari kasus tersebut tergolong jenis implikatur percakapan khusus, karena konteks kata “sapu” yang bermakna seperti itu hanya berlaku untuk komunikasi dalam kelompok.

  • ANALISIS IMPLIKATUR PADA NASKAH FILM HARRY POTTER AND THE GOBLET OF FIRE. Oleh : Yunita Nugraheni . Universitas Muhammadiyah Semarang. 2010

(a)           Analisis Data

Konteks: tuturan antara Harry Potter & Hermione Granger terjadi di rumah keluarga Weasley (rumah Ronald Weasley, sahabat Harry Potter). Waktu terjadinya tuturan adalah pagi hari (fajar), Hermione membangunkan Harry untuk segera mempersiapkan diri berangkat ke stadion untuk menyaksikan Piala Dunia Quidditch.

Hermione      : “Harry! Are you alright?”

Harry             : “Hermione. Bad dream. When did you get here?”

Tuturan yang dituturkan oleh Harry melanggar maksim kuantitas, karena Harry memberikan informasi melebihi yang dibutuhkan oleh Hermione. Sebenarnya maksud Hermione menanyakan keadaan Harry adalah karena Harry mengigau dalam tidurnya. Pertanyaan Hermione cukup dijawab Harry dengan jawaban bad dream, namun selain menjawab pertanyaan Hermione, Harry juga menanyakan sebuah pertanyaan kepada Hermione. Implikatur yang muncul dari tuturan Harry tersebut adalah Harry terkejut dengan fakta bahwa ia dibangunkan Hermione di pagi itu. Harry tidak menyangka bahwa Hermione yang dikiranya belum datang ke rumah keluarga Weasley sudah ada dan membangunkannya pagi itu.

PENUTUP

 

Dari pembahasan di atas, dapat dilihat dan disimpulkan bahwa betapa sesungguhnya dalam sebuah masyarakat, perbincangan yang terjadi dalam praktek komunikasi keseharian itu harus selalu bersifat informatif dalam pelaksanaanya? Tentu saja jawabanya, tidak. Ada kalanya pula. Memang perbincangan yang terjadi bersifat ‘samar’, bersifat ‘ambigu’. Tentu dengan maksud yang sifatnya sangat tertentu juga.  Dengan fakta tersebut, sesungguhnya sekaligus hendak ditegaskan bahwa maksim-maksim di dalam prinsip kerjasama Grice tidak sepenuhnya harus ditepati di dalm praktek keseharian komunikasi. Alasannya sangat jelas, yakni bahwa perbincangan yang harus terjadi tidka selamanya harus bersifat informatif. Fakta kebahasaan demikian ini juga dapat digunakan unutk mendukung penjelasan bahwa bahasa sesungguhnya tidak hanya digunakan sebagai peranti untuk menyampaikan informasi dalam komunikasi. Lebih jauh dari semuanya itu, bahasa memang memiilki fungsi yang sangat penting untuk peranti mengukuhkan relasi antar warga masyarakat pemakai bahasa tersebut.

Prinsip kerjasama, sebagaimana yang disampaikan Grice (1975), banyak dimanfaatkan di dalam retorika yang bersifat tektsual. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa prinsip kerjasama ini akan banyak bermanfaat untuk mencermati maslah-masalah yang sifatnya tekstual, bukan yang interpersonal. Untuk retorika yang sifatnya interpersonal, prinsip kesantunan berbahasa yang akan dapat bermanfaat banyak. Maka sering dikatakan bahwa prinsip kerjasama di dalam pertuturan sesungguhnya harus dilengkapi dengan prinsip kesantunan berbahasa.

Akan tetapi pertanyaannya adalah Apakah prinsip-prinsip demikian itu tidak berlaku khas dan khusus di dalam wadah masyarakat dan budaya yang berbeda-beda?. Pada dasarnya masyarakat tertentu yang masih sangat menjunjung tinggi budaya tidak terus terang, seperti juga di dalam masyarakat Jawa, maka ketiga prinsip di atas tidak sepenuhnya berlaku. Teori-teori kebahasaan yang berlatar belakang data pada kultur Barat, tampaknya memang tidak dapat berlaku dan diterpakna di dalam masyarakat yang memiliki latar belakang kultur Non-Barat, jadi sesungguhnya ini merupakan kajian yang sifatnya “culture specific.”

Pada bagian sebelumnya sudah dikatakan bahwa pragmatik berkenaan dengan masalah-masalah yang sifatnya nontekstual. Untuk maslaah-masalah interpersonal, prinsip kerjasama Grice tidak lagi banyak digunakan, alih-alih digunakan prinsip kesantunan (politeness principle). Prinsip kesantunan yang sampai dengan saat ini dianggap lebih mapan telah dirumuskan oleh Leech (1983). Rumusan ini selengkapnya tertuang dalm 6 maksimnya. Berbeda dengan yang disampaikan di dalam model kesantunan Brown dan Levinson (1987) dan dapat dilihat dengan cara berbeda lagi, Robin Lakoff (1973) menunjukkan bahwa kesantunan tuturan itu dapat dicermati dari 3 hal, yakni dari sisi keformalannya, ketidaktegasannya, dan kesekawannya. Bila dalam rumusan bahasa Indonesia, Wijana (1996) menyampaikan maksim-maksim di dalam prinsip kesantunan sebagai berikut : (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim kecocokan, (3) maksim penerimaan, (4) maksim kemurahan, (5) maksim kerendahan hati, (6)  maksim kesimpatisan.

Referensi

 

Allan, Keith. 1986. Linguistic Meaning. London : Routledge & Kegan Paul Inc.

Mujiyono Wiryationo.1996. Implikatur Percakapan Anak Usia Sekolah Dasar. Malang: IKIP Malang.

Rahardi, Kunjana. 2007. Pragmatik : Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Rahardi, Kunjana. 2009. Sosiopragmatik : Kajian Imperatif dalam Wadah Konteks Sosiokultural dan Konteks Situasionalnya.   Jakarta : Erlangga.

Rahardi, Kunjana. 2006. Dimensi-dimensi Kebahasaan : Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini.  Jakarta : Erlangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s