Tindak Tutur (Austin dan Searle)

  1. A.         PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Dalam setiap komunikasi manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Menurut pengalaman nyata, bahasa itu selalu muncul dalam bentuk tindakan atau tingkah tutur individual. Karena itu tiap telaah struktur bahasa harus dimulai dari pengkajian tindak tutur. Tindak tutur merupakan perwujudan konkret fungsi-fungsi bahasa, yang merupakan pijakan analisis pragmatik (Rahardi, 2005).

Tindak tutur merupakan gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungan ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Kalimat “Disini panas sekali!” dapat memiliki bermacam arti di berbagai situasi berbeda. Bisa jadi, si penutur hanya menyatakan fakta keadaan udara saat itu, meminta orang lain membukakan jendela atau menyalakan AC, atau bahkan keluhan/complain. Oleh karena itu, kemampuan sosiolinguistik, termasuk pemahaman mengenai tindak tutur sangat diperlukan dalam berkomunikasi karena anusia akan sering dihadapkan dengan kebutuhan untuk memahami dan menggunakan berbagai jenis tindak tutur, dimana masing-masing jenis tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai macam strategi. Ada beberapa tokoh terkemuka terkait teori tindak tutur, misanya J.L. Austin, J.R. Searle, G.N. Leech, dan H.P. Grice. Makalah ini hanya akan membahas teori tindak tutur dari dua tokoh pertama, yaitu Austin dan Searle, termasuk definisi dan contoh-contohnya.

 

  1. B.          PENGERTIAN TINDAK TUTUR

Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Tindak tutur memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan suatu tujuan. Misalnya menurut ketentuan hukum yang berlaku di negara ini, “Saya memerintahkan anda untuk meninggalkan gedung ini segera”. Tuturan tersebut juga dapat dinyatakan dengan tuturan “Mohon anda meninggalkan tempat ini sekarang juga” atau cukup dengan tuturan “Keluar”. Ketiga contoh tuturan di atas dapat ditafsirkan sebagai perintah apabila konteksnya sesuai.

Austin (1962) menyebutkan bahwa pada dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut kemudian mendasari lahirnya teori tindak tutur. Yule (1996) mendefinisikan tindak tutur sebagai tindakan yang dilakukan melalui ujaran. Sedangkan Cohen (dalam Hornberger dan McKay (1996) mendefinisikan tindak tutur sebagai sebuah kesatuan fungsional dalam komunikasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu kesatuan fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.

Tindak tutur dan peristiwa tutur sangat erat terkait. Keduanya merupakan dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi. Peristiwa tutur merupakan peristiwa sosial karena menyangkut pihak-pihak yang bertutur dalam satu situasi dan tempat tertentu. Peristiwa tutur ini pada dasarnya merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur (inggris: speech act) yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, tindak tutur selalu berada dalam peristiwa tutur. Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial seperti disebut di atas, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur lebih dilihat pada tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya.

  1. C.         TINDAK TUTUR VERSI AUSTIN

Teori tindak tutur muncul sebagai reaksi terhadap ‘descriptive fallacy’, yaitu pandangan bahwa kalimat deklaratif selalu digunakan untuk mendeskripsikan faka atau ‘state of affairs‘, yang harus dilakukan secara benar atau secara salah (Malmkjer, 2006: 560). Padahal, menurut Austin, banyak kalimat deklaratif yang tidak mendeskripsikan, melaporkan, atau menyatakan apapun, sehingga tidak bisa dinyatakan benar-salahnya. Ujaran dari kalimat tersebut adalah (bagian dari) kegiatan/tindakan. Misalnya, kalimat “Saya nikahkan … dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.” yang diucapkan oleh penghulu di sebuah acara pernikahan merupakan “the doing of some action”, dalam hal ini, merupakan tindakan penghulu dalam menikahkan pasangan pengantin, bukan sekedar perkataan belaka, atau “saying something” (hal. 560).

Ada dua jenis ujaran, menurut Austin, yaitu ujaran konstatif dan performatif.

  1. Ujaran konstantif ujaran yang tidak melakukan tindakan dan dapat diketahui salah-benarnya. Menurut Austin (1962), ujaran konstantif adalah jenis ujaran yang melukiskan suatu keadaan faktual, yang isinya boleh jadi merujuk ke suatu fakta atau kejadian historis yang benar-benar terjadi pada masa lalu. Ujaran konstantif memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah berdasarkan hubungan faktual antara si pengujar dan fakta sesungguhnya. Jadi, dimensi pada ujaran konstatif adalah benar-salah.

Contoh: Kamu terlihat bahagia.

  1. Ujaran performatif, yaitu ucapan yang berimplikasi dengan tindakan si penutur sekalipun sulit diketahui salah-benarnya, tidak dapat ditentukan benar-salahnya berdasarkan faktanya karena ujaran ini lebih berhubungan dengan perilaku atau perbuatan si penutur. Ujaran seperti “Kamu dipecat!”, “Dengan ini Saudara saya nyatakan bersalah” merupakan contoh ujaran performatif. Dimensi pada ujaran performatif adalah senang-tidak senang (happy/felicitious-unhappy/infelicitious), yang ditentukan melalui empat jenis kondisi, yaitu: (1) adanya konvensi umum bahwa ujaran kata-kata tertentu oleh orang tertentu dalam situasi tertentu akan menghasilkan efek tertentu, (2) semua partisipan dalam prosedur (1) harus melaksanakan prosedur tersebut secara benar dan lengkap/sempurna, ((3) jika konvensinya adalah bahwa partisipan dalam prosedur tersebut memiliki pikiran, perasaan dan niat tertentu, maka partisipan berarti memiliki pikiran, perasaan dan nita tertentu tersebut, dan (4) jika konvensinya adalah setiap partisipan harus bersikap tertentu, berarti partisipan tersebut harus bersikap tertentu (sesuai konvensinya). Jika satu dari kondisi diatas tidak terpenuhi, berarti ujaran performatif tersebut tidak senang (unhappy). Namun, kemudian Austin sendiri meragukan cara pembedaan diatas dengan mengajukan tes “I hereby” untuk menentukan ujaran performatif atau konstantif. Austin menyebutkan bahwa ujaran performatif bercirikan “speech act verbs” atau verba performatif. Pembedaan diatas kemudian ditinggalkan. Austin kemudian membedakan ujaran performatif eksplisit dan implisit, yang dicirikan dengan ada tidaknya verba performatif.

Sumbangan terbesar Austin dalam teori tindak tutur adalah pembedaan tindak lokusi, ilokusi dan perlokusi. Menurut Austin, setiap kali penutur berujar, dia melakukan tiga tindakan secara bersamaan, yaitu (a) tindak lokusi (locutionary acts), tindak ilokusi (illocutionary acts) dan tindak perlokusi (perlocutionary acts). Menurut Austin (1962), andai si penutur berniat menguratakan sesuatu yang pasti secara langsung, tanpa keharusan bagi si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya, niatannya disebut tindak tutur lokusi. Bila si penutur berniat mengutarakan sesuatu secara langsung, dengan menggunakan suatu daya yang khas, yang membuat penutur berntindak sesuai dengan apa yang dituturkannya, niatannya disebut tindak tutur ilokusi. Dalam pernyataan lain, tindak ilokusi adalah tindak dalam menyatakan sesuatu (performatif) yang berlawanan dnegan tindak menyatakan sesuatu (konstantif). Sementara itu, jika si penutur berniat menimbulkan respons atau efek tertentu kepada mitra tuturnya, niatannya disebut tindak tutur perlokusi. Bila tindak lokusi dan ilokusi lebih menekankan pada peranan tindakan si penutur, tindak perlokusi justru lebih menekankan pada bagaimana respons si mitra tutur. Hal yang disebutkan terakhir ini, menurut Austin, berkaitan dengan fungsi bahasa sebagai pemengaruh pikiran dan perasaan manusia. Kendati demikian, ketiga tindak tutur tersebut merupakan satu kesatuan yang koheren di dalam keseluruhan proses tindak pengungkapan bahasa sehingga seharusnya mencerminkan prinsip adanya satu kata dan tindakan atau perbuatan.

  1. Tindak lokusi, melakukan tindakan untuk mengatakan sesuatu. Tindakan lokusi mengandung makna literal. Contoh: “It is hot here”, makna lokusinya berhubungan dengan suhu udara di tempat itu. Contoh lain ‘Saya lapar’, seseorang mengartikan ‘Saya’ sebagai orang pertama tunggal (si penutur), dan ‘lapar’ mengacu pada ‘perut kosong dan perlu diisi’, tanpa bermaksud untuk meminta makanan. Dengan kata lain, tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Dalam tindak lokusi, Austin membagi tiga subjenis, yaitu:
    1. Tindak fonik (phonic), yaitu dikeluarkannya bunyi atau phones
    2. Tindak fatik (phatic) yaitu adanya phemes, bunyi-bunyi tersebut memiliki kosakata dan mengikuti aturan tata bahasa tertentu (phemes).
    3. Tindak retik (rhetic), yaitu adanya makna dan referensi (rhemes)

Semua tindak tersebut dilakukan pada saat melakukan tindak lokusi. Malmkjer (2006) menyatakan bahwa setiap penutur melakukan tindak lokusi, dia juga melakukan tindak ilokusi, misalnya menyatakan, berjanji, mengingatkan, dsb.

  1. Tindak ilokusi, melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Pada tindak tutur ilokusi, penutur menyatakan sesuatu dengan menggunakan suatu daya yang khas, yang membuat si penutur bertindak sesuai dengan apa yang dituturkanya. Tindakan ini mengandung makna yang berhubungan dengan fungsi sosial. Pada kalimat “It is hot here”, makna ilokusinya mungkin permintaan (request) agar membuka jendela lebar-lebar, atau bila kalimat tersebut diulang-ulang, mungkin mengisyaratkan keluhan (complaint).  Contoh lain: “ Sudah hampir pukul tujuh.” Kalimat di atas bila dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya di pagi hari, selain memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si istri bahwa si suami harus segera berangkat ke kantor, jadi minta disediakan sarapan. Oleh karena itu, si istri akan menjawab mungkin seperti kalimat berikut, “Ya Pak! Sebentar lagi sarapan siap.”

Austin membagi tindak ilokusi kedalam lima subjenis:

  1. verdiktif (verdictives), tindak tutur yang ditandai oleh adanya keputusan yang bertalian dengan benar-salah, misalnya (perhatikan kata yang bergaris bawah), “Hamdan dituduh menjadi dalang unjuk rasa”
  2. Eksersitif (exercitives), tindak tutur yang merupakan akibat adanya kekuasaan, hak, atau pengaruh, misalnya “saya meminta Anda untuk datang ke kantor pagi-pagi,” ujar Zacky kepada sekretarisnya;
  3. Komisif (commissives), tindak tutur yang ditandai oleh adanya perjanjian atau perbuatan yang menyebabkan si penutur melakukan sesuatu, misalnya “Universitas Nasional menandatangani kerja sama dengan University Malaya dalam penerbitan jurnal ilmiah,” ucap Lina di muka rapat pimpinan.
  4. Behavitif (behavitives), tindak tutur yang mencerminkan kepedulian sosial atau rasa simpati, misalnya “Pemerintah Singapura ikut prihatin terhadap TKI Indonesia yang mengalami penyiksaan di Arab Saudi”, dan
  5. Ekspositif (expositives), tindak tutur yang digunakan dalam menyederhanakan pengertian atau definisi, misalnya “bail out” itu ibarat seseorang yang utang-nya kepada seseorang dibayari oleh orang lain yang tidak dikenalrnya.”
  1. Tindak perlokusi (Perlocutionary act), melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Tindak perlokusi menghasilkan efek atau hasil. yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar, sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Tanggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata, tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Contoh: ‘Saya lapar’, yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar, yaitu dengan reaksi memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. Pada kalimat “It is hot here”, berdasarkan konteks tertentu (udara panas, berada dalam ruangan yang jendela dan pintu tertutup semua, misalnya), maka hasil yang akan diperoleh adalah jendela akan dibuka lebar-lebar atau tidak dihiraukan sama sekali.
  1. D.         TINDAK TUTUR VERSI SEARLE

Searle (dalam Rahardi, 2005: 35-36) menyatakan bahwa dalam praktiknya terdapat tiga macam tindak tutur antara lain:

(1) tindak lokusioner,

(2) tindak ilokusioner,

(3) tindak perlokusi.

Tindak lokusioner adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Kalimat ini dapat disebut sebagai the act of saying something. Dalam lokusioner tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan oleh si penutur. Jadi, tuturan “tanganku gatal” misalnya, semata-mata hanya dimaksudkan memberitahukan si mitra tutur bahwa pada saat dimunculkannya tuturan itu tangan penutur sedang dalam keadaan gatal.

Sedangkan menurut Malmkjer (2005), jika Austin membagi tiga tindak tutur, Searle membaginya menjadi 4 tindak tutur. Dalam tindak lokusioner khususnya, Austin membaginya menjadi tiga, sedangkan Searle membaginya menjadi dua, yaitu:

  1. Tindak ujar (utterance act), yaitu mengujarkan kata (morfem kalimat). Tindak tutur ini mencakup dua tindak tutur lokusi dari Austin.
  2. Tindak preposisi (prepositional act), yaitu merujuk dan memprediksi. Tindak ini merupakan tindak lokusi ketiga pada Austin. Tindak tutur jenis inilah yang kemudian akan diekspresikan melalui tindak ilokusi dan perlokusi.

Tindak ilokusioner adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu pula. Tindak tutur ini dapat dikatakan sebagai the act of doing something. Tuturan “tanganku gatal” diucapkan penutur bukan semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan mitra tutur bahwa pada saat dituturkannya tuturan tersebut, rasa gatal sedang bersarang pada tangan penutur, namun lebih dari itu bahwa penutur menginginkan mitra tutur melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan rasa gatal pada tangan penutur, misalnya mitra tutur mengambil balsem.

Tindakan perlokusi adalah tindak menumbuh pengaruh (effect) kepada mitra tutur. Tindak tutur ini disebut dengan the act of affecting someone. Tuturan “tanganku gatal”, misalnya dapat digunakan untuk menumbuhkan pengaruh (effect) rasa takut kepada mitra tutur. Rasa takut itu muncul, misalnya, karena si penutur itu berprofesi sebagai seseorang tukang pukul yang pada kesehariannya sangat erat dengan kegiatan memukul dan melukai orang lain.

Selanjutnya, Searle (dalam Rahardi, 2005:36) menggolongkan tindak tutur ilokusi itu ke dalam lima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Kelima macam bentuk tuturan yang menunjukkan fungsi itu dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Asertif (Assertives),

yakni bentuk tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggesting), menbual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

  1. Direktif (Directives),

yakni bentuk tuturan yang dimaksudkan penuturannya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya, memesan (orderin), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasehati (advising), dan merekomendasi (recommending).

  1. Ekspresif (Expressives)

adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thanking), memberi selamat (congratulating), meminta maaf (pardoning), menyalahkan (blambing), memuji (praising), berbelasungkawa (condoling).

  1. Komisif (Commissives),

yakni bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promising), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering)

  1. Deklarasi (Declarations),

Yaitu bentuk tuturan yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataan, misalnya berpasrah (resigning), memecat (dismissing), menbaptis (chistening), memberi nama (naming), mengangkat (appointing), mengucilkan (excommicating), dan menghukum (sentencing).

Table berikut merangkum subjenis tindak ilokusi diatas.

Teori tindak tutur Austin merupakan teori tindak tutur yang berdasarkan pembicara, dimana focus perhatiannya adalah pada bagaimana penutur mewujudkan maksude (intention) dalam berbicara; sebaliknya, Searle melihat tindak tutur berdasarkan pendengar, yaitu bagaimana pendengar merespons ujaran tersebut, yaitu bagaimana ia mengira-ngira tujuan penggunaan penutur menggunakan ujaran tertentu (Wadhaugh, 2006). Jadi, Searle berusaha melihat bagaimana nilai ilokusi itu ditangkap dan dipahami pendengar. Dalam membuat janji (promise-making), misalnya, ada lima aturan (rules) yang mengaturnya, yaitu propositional content rule, bahwa kata-kata tersebut harus memprediksi future action penutur, preparatory rules sebagai aturan kedua dan ketiga mengisyaratkan bahwa baik orang yang berjanji dan diberi janji harus menginginkan janji tersebut ditepati; selain itu orang yang berjanji harus percaya bahwa dia bisa melakukan hal yang dijanjikan. Aturan keempat, sincerity rule, mengharuskan pembuat janji berniat melakukan janji tersebut. Aturan kelima, essential rule menyatakan bahwa dengan pengucapan kata-kata tersebut berarti orang yang berjanji wajib/harus melakukan tindakan yang dijanjikannya.

 

  1. E.  CONTOH PENELITIAN/ARTIKEL MENGENAI TINDAK TUTUR
    1. Novianti, E. (2008). Tindak tutur direktif dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Tesis. Universitas Diponegoro

Abstrak

One of the vernacular languages in Indonesia is Sambas Malay dialect. The big number of its speakers causes this language get special attention. The problem discussed in this research is the directive speech and directive speech of politeness on Sambas Malay dialect. The aim of this research is to describe the directive speech and directive speech of politeness on Sambas Malay dialect. This research uses some theories, they are: Speech Act by Austin (1962) and Searle (1975), Cooperative Principle by Grice (1975) and Politeness Principle by Leech (1983).

This research uses pragmatic approach and descriptive method to descript directive speech and directive speech of politeness on Sambas Malay dialect. This research uses qualitative method. The methods of collecting data are used direct observation, and the technique used are: recording technique, note taking technique and pancing technique. The data are analysed using contextual method.

From the result of data analysis it is known that the directive speeches on Sambas Malay dialect have the imperative, declarative, and interrogative construction. The directive speech on Sambas Malay dialect have some meaning such as: command, order, expectation, invitation, prohibition, allowing, request, suggestion, and menyule`. The directive speeches of politeness on Sambas Malay dialect are divide into two, linguistics politeness forms and pragmatics politeness forms. Linguistics politenesses are determined by two points, the usage of politeness marker and speech intonation. Linguistic politeness is based on five points, they are: tullong ‘help’, biar ‘let’, cobe` ‘try’, sile’ ‘please’, and harap ‘hope’. Imperative politeness can be formed by declarative and interrogative construction. The declarative constructions are used to state: invitation, command, point, prohibition, and hope. The interrogative construction is used to state: command, invitation, proposing, and please.

The researcher suggests the research on Sambas Malay dialect using pragmatic approach is must be still followed up by other researchers.

Contoh Hasil

Tuturan direktif perintah berbentuk langsung dalam bahasa Melayu dialek Sambas terdapat pada contoh tuturan berikut.

(1) “Barse`hkan jua’ rumah kite`! Pinggan mangkok.”

“Bersihkan juga rumah kita! Piring, mangkok.”

Informasi indeksal:

Dituturkan oleh seorang suami kepada istrinya. Pada saat suami pulang dari kantor, ia melihat rumahnya dalam keadaan berantakkan. Ia merasa kesal karena sang istri hanya nonton TV saja.

Tuturan Direktif Suruhan

Tuturan direktif suruhan adalah tuturan yang digunakan ketika penutur tampaknya tidak memerintah lagi, tetapi menyuruh mencoba atau mempersilakan mitra tutur agar sudi untuk berbuat sesuatu. Pada bahasa Melayu dialek Sambas tuturan direktif suruhan ada yang berbentuk langsung dan ada yang berbentuk tidak langsung. Tuturan direktif suruhan yang berbentuk langsung pada bahasa Melayu dialek Sambas adalah sebagai berikut.

(7) “Cobe` kau minum obat nang dibarre`’ mantri iye`! Insyaallah sakit pala’mu bise` baik.”

“Coba kau minum obat yang diberi mantri! Insyaallah sakit kepalamu akan sembuh.”

Informasi indeksal:

Tuturan seorang ibu kepada anaknya yang mengeluh sakit kepala. Anak tersebut tidak mau minum obat yang diberikan oleh mantri ketika pagi tadi mereka ke Puskesmas.

 

 

Tuturan Direktif Permohonan atau Harapan

Tuturan direktif permohonan atau harapan adalah jika penutur demi kepentingannya meminta mintra tutur untuk berbuat sesuatu. Tuturan ini pada bahasa Melayu dialek Sambas ada yang berbentuk langsung dan ada yang berbentuk tidak langsung.

Tutur direktif permohonan atau harapan yang berbentuk langsung pada bahasa Melayu dialek Sambas adalah sebagai berikut.

(12) Siswa kepada guru: “Mohon be` Pak, usah Bapak sadukan masalah to’ ke`urang tue` saye`. Kalla’ saye` pasti dimarahe’ nye`.”

Siswa kepada guru: “Mohon Pak, jangan Bapak melaporkan masalah ini kepada orang ta saya. Nanti saya pasti dimarahinya.”

Informasi indeksal:

Seorang siswa mendapat hukuman karena merokok di sekolah. Ia takut jika gurunya akan melaporkan kejadian itu kepada orang tuanya.

  1. Pratiwi, D.N. (2012). ‘Penerapan Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi, Dan Perlokusi Ustad Nur Maulana Pada Tayangan Islam Itu Indah Di Trans TV’, Skriptorium, Vol. 1, No. 1

Abstrak

Islam Itu Indah is one of the religious programme on Trans TV that has been drawing people’s attention since the day it has been broadcasted for the first time. The main reason of that phenomenon the attractiveness of the man who conducts the show. This paper aims to describe the forms of Ustad Nur Maulana’s locution, ilocution, and perlocution on that programme. Maulana’s statement locution is in informative form to do with its purpose to inform the topics without expecting any feedback from the audiences. Moreover, Maulana’s illocution has specific goals such as advising or commanding. At last, perlocution is mostly used when Maulana conducted Q&A sessions. It is also used to give motivation to the audiences for having a better life especially in Islamic way.

Keywords: locution, ilocution, perlocution

 

Contoh Hasil

Indah

1. Episode “Sakinah, Mawadah, Warrahmah”

a. Tindak Tutur Lokusi

Pada data episode “Sakinah, Mawadah, dan Warrahmah” tindak lokusi tuturan Ustad Nur Maulana yang digunakan untuk menyampaikan suatu pernyataan yang bersifat informatif terlihat di beberapa tuturan, baik monolog maupun interaksi. Pada contoh tuturan monolog Ustad Nur Maulana (1) arti sakinah itu tenang, arti mawadah itu cinta kasih, arti warrohmah itu sayang”. Tuturan tersebut mengandung sebuah pernyataan berupa informasi yang diberikan Ustad Nur Maulana kepada seluruh jamaahnya tentang arti dari sakinah, mawadah, dan warrahmah. Pernyataan tersebut tidak membutuhkan umpan balik berupa tindakan verba atau non verba, melainkan mitra tutur hanya dapat memahami dan menerima tuturan tersebut sebagai pengetahuan baru.

b. Tindak Tutur Ilokusi

Dalam episode tersebut di atas, setelah diidentifikasi ditemukan tuturan yang tergolong tindak tutur ilokusi, dimana Ustad Nur Maulana dalam tuturannya mempunyai maksud atau tujuan yang ingin dicapi atas penuturannya. Pada tuturan monolog di awal segmen kedua episode ini, Ustad Nur Maulana menjelaskan perihal arti dari dua warna buku nikah yang diberikan kepada pasangan suami istri yang baru saja menikah. Tuturan tersebut diutarakan penutur bukan semata-mata untuk memberitahukan saja arti dari warna coklat bagi laki-laki dan arti warna hijau bagi perempuan, namun di dalamnya mempunyai maksud memerintah agar mitra tutur menerapkan filosofi yang terkandung dalam arti dua warna tersebut. Untuk warna coklat bagi laki-laki berarti kesetiaan terhadap pasangan, sedangkan warna hijau bagi perempuan diartikan sebagai kesuburan yang diharapkan dapat memberikan keturunan yang baik dalam keluarga tersebut.

c. Tindak Tutur Perlokusi

Dalam interaksinya Ustad Nur Maulana mengatakan bahwa “istri harus tahu diri penempatannya, suami harus menyayangi, istri harus bersifat patuh, suami harus mengayomi. Suami kadang kala harus memberikan perhatian, istri kadang harus membutuhkan pemahaman”. Tuturan tersebut tindak perlokusinya dimaksudkan untuk memberikan pengaruh atau efek bagi mitra tuturnya agar suami istri lebih bisa menempatkan diri dan menyadari peranannya masing-masing dalam rumah tangga sehingga timbul ketenangan di antara keduanya.

 

  1. F.          KESIMPULAN
  1. Speech act atau tindak tutur pertama kali di kenalkan oleh Austin (1911-1960) dalam bukunya yang berjudul How to Do Things with Words (1965). Menurutnya, saat bertutur, orang tidak hanya bertutur namun juga melakukan suatu tindakan. Misalnya, pada tuturan I bet you ten pence she will come tomorrow, penutur tidak hanya bertutur, namun juga melakukan tindakan, yakni bertaruh. Tuturan seperti itu disebut tuturan performatif. Tuturan performatif adalah lawan dari tuturan konstatif, yakni tuturan yang dapat dinyatakan benar atau takbenar.
  2. Menurut Austin, ada tiga jenis tindakan yang dapat dilakukan melalui tuturan, yaitu (1) tindak lokusi (locutionary act), yakni tuturan yang menyatakan sesuatu, yang terdiri dari phonic act, phatic act dan rhetic acts; (2) tindak ilokusi (illocutionary act), yakni tuturan yang menyatakan sekaligus melakukan suatu tindakan yang terdiri dari verdictives, excersiviies, commissives, behavitives, dan expositives; dan (3) tindak perlokusi (perlocutionary act), adalah tuturan yang mempunyai daya pengaruh terhadap petutur untuk melakukan sesuatu.
  3.  Murid Austin, Searle (1965) Tindak tutur diklasifikasikan menjadi utterance act dan prepositional act (sebagai lokusi), tindak ilokusi yang terbagi menjadi menjadi lima kelompok, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi dan tindak perlokusi.

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, A.D. (1996). ‘Speech acts’. Dalam N. H. Hornberger & S. L. McKay. Sociolinguistics and Language Teaching. Cambridge: CUP

Malmkjer, K. (2006). The Linguistics Encyclopedia. London: Routledge

Rahardi, K. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Pratiwi, D.N. (2012). ‘Penerapan Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi, Dan Perlokusi Ustad Nur Maulana Pada Tayangan Islam Itu Indah Di Trans TV’, Skriptorium, Vol. 1, No. 1, diakses melalui http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=4345&med=45&bid=45

Novianti, E. (2008). ‘Tindak tutur direktif dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Tesis. Universitas Diponegoro’. Diakses melalui http://eprints.undip.ac.id/34123/

Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publishing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s